Rabu, 10 Oktober 2012

KPK Vs. Polri - Pahlawan atau Rivalan?

Assalammualaikum… Sampurasun Rampes…. (salam rutin kang CilembuThea.. hehe). Balik lagi nih di blog catatan indrayana, blog yang tak hanya memuat curahan tulisan pribadi tetapi juga headline-headline yang cukup menarik untuk diperbincangkan di publik. Hehehehe …. Apa kabarnya semua? Tentu baik-baik saja. Tetapi mungkin kabar baik ini tidak sedang berhembus kepada kedua institusi negara yang mungkin dua-duanya kita bisa sebut sebagai ‘pahlawan’ kali yaa. Hehehe. Ya, mereka berdua adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polisi Republik Indonesia (POLRI). Pasti sobat blogger udah cukup tahu dong bagaimana mereka dan apa sepak terjangnya …

Hmm… Seperti biasa lagi nih. Mau intermezzo dulu. Haha … Emang nih si Indra, lagi-lagi begitu. Hahaha :D . Tapi gak akan panjang kok. Aku hanya mau promosi dikit mengenai blog kedua aku nih. Namanya Desain Indrayana – Wadah Bebas Desainanku. Dalam kontennya, aku memprioritaskan hasil portofolio desainku baik berupa gambar diam maupun gambar video. Ada video liputan dan ada video dokumentarian. Yang ingin buka dan memfollow barangkali, mumunggu … diklik aja linknya. Desain Indrayana (ada juga di tab sidebar atas – disamping Tentang Indrayana)  ^ ^

Okesip. Kembali ke tema…

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Komisi yang berkonsentrasi penuh terhadap penanganan kasus korupsi ini didirikan di tahun 2003 yang memang secara tugas sudah pasti pada pusat permasalahan pemalingan uang negara. Sepanjang masa tugasnya, KPK telah mampu menyingkap beragam masalah korupsi (dan tentunya hingga sekarang) bahkan dengan cara yang beragam pula. Pantaslah jika KPK bisa disebut sebagai ‘pahlawan’ negara.

Nah, Polri, atau kepanjangannya Polisi Republik Indonesia juga berkonsentrasi dalam penanganan sejumlah masalah global yang umumnya sangat meresahkan masyarakat, yakni penegakan hukum, pemberantasan teroris, pelayan masyarakat dan lain sebagainya. Kita ambil contoh saja, gembong teroris yang paling dinanti penangkapannya, Noordin M Top, akhirnya bisa ditangkap juga oleh tangan-tangan tangguh Tim Densus 88 yang saat itu kepemimpinan polri dibawah naungan Jendral Bambang Hendarso Danuri. Waaw …. Apresiasi penuhlah terhadap kau semua, Polri!! Wehehe …  :D


Artinya apa? Kedua institusi independen negara ini pada dasarnya memiliki satu tugas kan sobat blogger? Yap. PENEGAKAN HUKUM. Lalu, apa yang salah sehingga masalah di kedua institusi ini seakan saling menjauh?

Terkesan ‘justru itu’. KPK dan Polri kini saling bersitegang dalam menegakkan proses hukum yang sesungguhnya dalam hematku itu kurang perlu untuk diperributkan saat ini. Tengahlah dalam kasus Hambalang Sport Center di Bogor, Jawa Barat, Korupsi PLTS, kasus Century, dan yang sekarang sedang menjadi ‘trending topic’ banget adalah kasus Simulator SIM. Selalu ada saja halangan dari KPK untuk mencoba menyidik di internal tubuh Polri. Contoh pada saat awal-awal kasus, mobil KPK pernah dihadang keluar saat selesai membawa berkas hasil sidikan korupsi beberapa waktu lalu.

Sekarang lagi… Kasusnya Novel Baswedan. Mantan Kompol kota Bengkulu yang saat ini menjabat sebagai ‘big boss’ nya kasus Simulator SIM di Korlantas Polri dituduh menganiaya seseorang saat masih menjabat di Polda Bengkulu tahun 2004 hingga tewas. Uuuuhhh …. Bagi pihak Polri, dalam prioritas utamanya yang disebut penegakkan hukum mempunyai perspektif pribadi mengapa tetap ingin menangkap pria yang terduga itu. Namun, di hemat banyak pihak, kasus ini tak ubahnya seperti konspirasi upaya Polri untuk melemahkan kerja KPK dalam menyidik kasus Simulator SIM. Wah… wah .. waahhh …

Jika memang benar Novel Baswedan bersalah dalam hal ini, mengapa tidak dari dulu disidik? Mengapa Polri baru menguak ini TEPAT pada sedang blowing-blowingnya kasus Simulator SIM? Apakah ini semacam upaya penghindaran dari Polri untuk menutupi internalitasnya???

Jelas publik tidak akan percaya pada Polri. Ketiga pertanyaan tersebut sudah menjadi dasar penilaian rakyat terhadap dua institusi yang saling merival ini. Bahkan sampai Presiden SBY membuka suara kepada Pers bahwa penanganan kasus Novel saat ini tidak tepat, dan beliau meminta agar kasus Simulator SIM hanya dipegang oleh KPK, dan bukan Polri. Then … what’s up? Interpretasi apa lagi yang akan dikatakan oleh Polri dalam menanggapi pernyataan tersebut?

Upaya kriminalisasi ini memang bukan kali pertama terjadi, dan bukan hanya dari satu institusi saja. Sekarang ini, masih hangat di berita media mengenai dugaan upaya mengkriminalisasi KPK oleh badan perwakilan yang kita sebut sebagai DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). Yap, DPR kini masih dalam perencanaan merevisi Undang-Undang KPK. Sebenarnya kalau revisi ke arah yang lebih baik sih, kita mah santai aja. Tapi kalau revisi yang mengkhawatirkan? Contoh satu saja, DPR tengah merencanakan pengubahan hak pribadi KPK untuk menyadap sebuah suara telepon. Masak untuk menyadap telepon KPK harus izin terlebih dahulu ke pengadilan tinggi? Walah walah walah …

source : www.seruu.com

Sekarang ini, KPK memang tengah dihadapkan pada cobaan yang cukup dahsyat bila ditimbang dari segi tugas. Pemberantasan korupsi harus tetap ditegakkan di negeri ini, dan tidak boleh ada yang menghalang-halangi. Bagaimanapun, korupsi harus ditindak. Saat ini banyak mengalir dukungan bagi KPK dari banyak kalangan, juga ikut serta para pengamat, artis dan seniman. Bahkan di Profile Picture FB dan avatar Twitter banyak memakai gambar “Save KPK”. Ini artinya rakyat memang sangat mengharapkan penuh KPK bisa kembali memberantas korupsi, dan tidak terhalang-halangi oleh apapun juga, bahkan dari institusi tertinggi sekalipun. Hukum harus ditegakkan. Betul gak sobat blogger?


KPK menegakkan hukum dengan tugasnya memberantas korupsi, Polri menegakkan hukum dengan tugasnya mengayomi masyarakat.



Jadi menurut kalian, KPK dan Polri … Pahlawan atau Rivalan?? 

Sabtu, 06 Oktober 2012

Memanajemen Waktu …

foto : http://koran-jakarta.com

“Kak … kak … kak Indra …… kenapa telat sampai sini kak?”
“In … kenapa elu telat? Kelas udah keisi semua…”
“Sebentar dulu in… Ini ada materi jurnalistik penting banget”
“Sorry yaa In. Gue emang lagi dideadline kerjaan jadi kagak bisa dateng ke Tomang”
“Sorry In … Biasalah gue ada kerjaan”


Kalimat-kalimat itu seakan akrab di telingaku saat menjelang atau berada tepat di hari H setiap hari Sabtu. Pada konversasi yang pertama, itu pertanyaan yang sering diucapkan oleh anak didikku di Taman Ceria Negeriku, sore tadi. Yang kedua, pertanyaan dari rekan pengajar di TCN juga. Yang ketiga, saat aku dicegah keluar dari sekretariat LPM Pers Orientasi Mercu Buana sesaat sebelum TCN memulai aktivitasnya. Nah, dua kalimat terakhir, itu kalimat penolakan karena tidak bisa hadir untuk mengajar anak-anak Tomang, yang biasa mereka ucapkan.

aku dan teman-teman di LPM Orientasi Mercu Buana
Semua pertanyaan itu sebenarnya muncul oleh karena desakan pihak luar yang mengharuskan mereka (termasuk aku) terlambat atau bahkan tidak hadir di TCN ini. Kini setiap sabtu yang penuh dengan kegiatan di luar. Mulai dari kegiatan perkuliahan, pengumpulan anggota baru di LPM Orientasi, hingga jam mengajar di TCN memang sudah tertata rapi dan jam-jamnya sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Dan kebetulan, beberapa hari lalu aku banyak sekali dipanggil interview oleh tiga PT yang diantaranya di sekitaran Cempaka Putih, Jakpus; Pluit, Jakut; dan di Permai Harmoni, Jakpus. Dan saat interview di Harmoni kamis lalu, itupun harus bentur dengan jam kumpul bersama teman-teman untuk bersama-sama menghadiri kondangan kakak senior di daerah Bogor, Jawa Barat. Oleh karena itu, akupun belum sempat BW untuk minggu ini.

di TCN ...
Kita berintermezzo dulu. Aku jadi teringat posting yang dirilis oleh kakanda yang sering banget komen dimari, dan komennya nongol dimana-mana (hehehe *ampun kang* :D), kang Zachronisampurno, dengan tulisan yang berjudul gila kerja. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang berjudul Decent Work Indonesia, jumlah pekerja di Indonesia yang bekerja lebih dari 48 jam per minggu semakin meningkat tiap tahun. Gambaran singkat yang cukup menyeramkan jika ini terus-terusan berulang, karena di setiap minggunya mereka harus berangkat kerja, bermacet-macet, dan berbanting tulang dari pagi hingga malam. Lalu paginya tentu berangkat kerja lagi. Hmm… Lalu adakah mereka memiliki waktu sekunder dan tersier yang mumpuni? Jika selain hari Minggu, berapa jam waktu yang dapat mereka habiskan untuk hal-hal yang lainnya?

saat kumpul bersama kawan-kawan pengajar TCN
Aspek lainnya, yang tidak perlu ditilik jauh-jauh. Teman-teman blogger kita yang dulunya sering banget komentar dan membuat posting, satu demi satu seakan seperti berguguran. Ada yang ingin hiatus karena mau persiapan UN, ada yang menghilang karena pekerjaannya, ada juga yang menghilang tanpa sebab. Gia Sitti Ghaliyah juga terus disibukkan sama kuliah fisikanya. Yasallam …

Kedua aspek tadi adalah berkaitan dengan manajemen waktu. Bagaimanakah si individu itu mengatur waktunya? Bagaimana supaya balance, atau ‘cukup’ adil dalam beberapa hal. Misalnya waktu kerja dan waktu untuk blogging. Gambaran singkatnya, jika waktu kerja paling banter sampai petanghari, mungkin bisalah malamnya sebelum tidur blogwalking dulu atau menulis posting. Atau dalam hal lain, misalnya perhatian kepada orang kedua, pacar, teman karib, dan waktu keluarga setidaknya jangan sampai menyempit atau bahkan hilang total.

Seperti yang terjadi belakangan ini kepadaku. Waktu luang untuk TCN seperti sedikit demi sedikit terkikis oleh karena pekerjaan. Alvin William, salah satu sahabat aku di TCN mengaku kini makin sulit memanajemen waktu bahkan di hari Sabtu. “Sekarang setiap sabtu gue kerja sampai jam tiga, In. Jadi waktu gue buat dateng kesini, jadi sering telat. Maaf yaa Inn …”, demikianlah kata pria yang berdomisili di Bekasi, Jawa Barat itu.
nah kalau yang ini, bersama anak-anakku di TCN ...
Hal senada juga pernah ditorehkan oleh blogger akrab kita Asep Haryono, 12 September lalu, dalam komentar di posting Pasang Gigi Tiruan. “Iya nih maklum lah kesibukan di kantor yang luar biasa yakni mengurus portal website perusahaan dan juga klien.” Demikian jawaban atas pertanyaan (bukan teguran ya kang :D) dariku kepada sahabat karib kita yang tinggal di kota Pontianak, Kalimantan Barat itu. Yaa, aku sih selalu maklum … Pokoknya apapun aktivitas kalian (sahabat blogger) semoga tidak menjadi putus tali silaturahmi sesama blogger oleh karena pekerjaan. Hehe …

(baju kotak : Yakub, baju hitam :Febriansyah)
Kita memang harus memaklumi, jika tuntutan pekerjaan dan serentetan tugas dari pihak pertama adalah sebuah kewajiban yang patut kita selesaikan. Tetapi jika kita merenung sejenak, masih ada hal yang tak kalah penting yang bisa kita lakukan. Jika pekerjaan adalah satu-satunya cara bertahan hidup, maka ingatlah hal yang bisa membangkitkan semangat bekerjamu. Tentunya masing-masing pribadi memiliki caranya sendiri untuk memotivasi dirinya sendiri dalam bekerja. Tetapi motivasi itu pasti tidak akan pernah lepas dari keterlibatan pihak yang lainnya. Misalnya kebersamaan keluarga, kumpul teman, belajar, bahkan kalau bisa berorganisasi selagi masih muda (seperti saya … *huu #lempar panci :D)

Aku sendiri pun berpikir, jika aku nanti diterima kerja di suatu perusahaan (Ammiinnn), apakah aku juga akan menyita kegiatanku yang lain? Berarti aku harus selalu siaga memanajemen waktu.

Karenanya, aturlah waktumu antara pekerjaan dengan hal yang lain, agar dayungan hidupmu teratur dan balance. Jangan terlalu gila kerja kalau kata kang Zachronisampurno. Hehehe … Dan satu lagi. Kesehatan. Jangan lupakan yang namanya istirahat yang cukup. Karena semakin banyak kegiatanmu, semakin harus juga kamu merenggangkan tubuhmu. Kemudian yang juga penting, jangan sampai sakit! Hehe …


Semangat memanajemen waktu ya teman-teman .. ^ ^

Senin, 01 Oktober 2012

Journey to the Sangiran site …

Assalammu’alaikum … Samparsun Rampes … (adaptasi lagi salam dari kang Cilembu Thea. Hehe). Gimana kabarnya sahabat blogger semua… Pembuka Oktober pasti juga jadi pembuka semangat baru bagi sobat blogger dalam menjalani aktivitasnya. Iya kan? Nah untuk posting kali ini, ada baiknya kalau kita jalan-jalan sejenak ke sebuah lokasi museum yang berada di pertengahan ujung timur Jawa Tengah ini. Yap, tempat ini dinamakan Museum Situs Purbakala Sangiran. Penasaran ada apa aja didalamnya? Yuk kita jalan-jalan bersama …

Setelah sebelumnya menemukan dua sobat blogger yang aku kunjungi beberapa waktu tadi, membuat aku jadi terinspirasi untuk menulis postingan sejenis laporan reportase. Tak ingin kalah dari kang Zachronisampurno, sahabat blogger yang sekarang merangkap posisi sebagai seorang wartawan. Dan, mengikuti posting demi posting dari si Gia Sitti Ghaliyah, yang ingin sekali pergi ke museum-museum, menarik minat aku untuk memposting tulisan spesial edisi jalan-jalan untuk kali ini.


Sebenarnya kunjungan aku ke museum ini sudah dari satu tahun yang lalu, tepatnya saat keluarga besar aku tengah mudik, dan menyelesaikan rangkaian agenda wajib yang dicanangkan keluarga aku selama aku berada di kampung tercinta, di Solo, Jawa Tengah. Tapi gak apa-apa yah kalau aku posting sekarang.... ^ ^

Perjalanan ‘start’ bermula dari kediaman keluargaku di Kampung Nirbitan, Tipes, Solo, Jawa Tengah pada pukul 08.00 pagi. Bersama satu rombongan menaiki bus mini berangkatlah kami ke tempat tujuan. Lokasinya pun bisa dikatakan lumayan jauh, bisa memakan waktu hingga dua jam lamanya. Tak ada yang dapat dilihat, selain rerumputan sawah, para ilalang, dan rumah-rumah ala gubuk dalam jarak yang ada hingga hitungan 100 meter satu sama lain.

Sampai di Sangiran, situs yang berlokasi di Kabupaten Sragen dan sebagian terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah itu, kami disambut sapa oleh sebuah batu besar hitam berada tak jauh di depan aku. Ini fotonya …



Okee. Mari kita masuk ke dalam sekarang. Dengan biaya seribu rupiah kita sudah bisa melihat situs yang isinya, benda-benda peninggalan masa kuno pada zaman manusia purba. Woow… Kita akan menemukan temuan sisa-sisa kehidupan masa lampau yang sangat menarik untuk dicermati dan dipelajari.

Salah satunya ini. Homo Erectus. Hal yang sangat menarik adalah berdasarkan penelitian bahwa manusia purba jenis Homo Erectus yang ditemukan di wilayah Sangiran sekitar lebih dari 100 individu yang mengalami masa evolusi tidak kurang dari 1 juta tahun. Dan ternyata jumlah ini mewakili 65% dari seluruh fosil manusia purba yang ditemukan di Indonesia dan merupakan 50% dari jumlah fosil sejenis yang ditemukan di dunia.(Widianto,et.al.,1996). Namun tidak hanya itu, kandungan batu yang pernah digunakan oleh manusia purba itu pun sangat banyak, sehingga kita bisa secara jelas mengetahui ataupun mengungkap kehidupan manusia purba beserta budaya yang berkembang saat itu.

manusia purba sangiran


ALAT-ALAT HOMO ERECTUS ....

Koenigswald, pertama kali menemukan alat-alat batu Sangiran di Perbukitan Ngebung. Namun alat-alat batu ini sulit ditentukan usianya karena merupakan temuan permukaan, sehingga hilanglah sudah konteks sebenarnya. Pada tahun 1990 diadakan penggalian secara sistematis di Ngebung untuk mengetahui usia pasti kebudayaan Homo Erectus di Sangiran. Ekskavasi ini menghasilkan temuan spektakuler berupa sisa manusia, sisa fauna, dan artefak batu secara in-situ, yang memiliki suatu kesamaan dengan temuan Koenigswald. Semua temuan ini berada pada lapisan fluviovolkanik anggota Formasi Kabuh yang berusia sekitar 700.000 tahun yang lalu. Huuu….woow. Penggalian di Dayu menyingkap temuan alat-alat batu pada lapisan grenzbank berusia tidak kurang dari 800.000 tahun yang lalu. Setelah dilakukan penggalian yang lebih dalam lagi, pada lapisan lempung hitam Formasi Pucangan yang berusia 1,2 juta tahun yang lalu ditemukan konsentrasi alat-alat serpih dalam jumlah yang banyak.




itulah himpunan alat-alat Homo Erectus paling tua di Indonesia




FAUNA PURBA KALA PLESTOSEN

Selain potensi akan kandungan fosil manusia dan artefaknya, di Sangiran juga sangat banyak menyimpan fosil-fosil fauna. Fosil-fosil ini berada pada seluruh tingkatan stratigrafi tanah Sangiran sehingga cukup berbeda dengan fosil-fosil manusia dan alat-alatnya yang ditemukan pada lapisan tanah tertentu. Eksistensinya dapat ditemukan kembali pada tingkatan stratigrafi dari Formasi, Kalibeng, Pucangan, grenzbank, kabuh, dan Notopuro.

Crocodilus (Buaya)

Gavialus Bengawanensis (Buaya Sungai)



gading gajah

kepala kerbau purba




Sayang saja foto-foto yang lainnya telah hilang oleh karena proses installasi Windows beberapa waktu silam. Hmm....

Demikianlah cerita pelesiran ala Indrayana. Muga kiranya dapat menjadi inspirasi jalan-jalan buat sobat blogger semua ... ^ ^


Ingin lain waktu ke sana lagi ... rasanya  ^ ^

Jumat, 28 September 2012

Menikah? Segera atau Nanti …

Assalammualaikum … Sampurasun Rampes (adaptasi dari salam rutin kang Cilembu Thea..) Sobat blogger yang dimuliakan Allah … yang Insya Allah selalu dimurahkan rezeki berikut jodohnya. Amiinn. Yang penting, selalu bahagia dunia akhirat yaa. Hehe … Kali ini aku mau posting mengenai sesuatu yang gak biasa. Ya … yang selalu didamba-dambakan umat manusia di belahan dunia. Apa itu? Yap. Menikah …

Oohhh Indra mau menikah???? Wah selamat yaa … HAH … siapa yang bilang begitu … hehehehe (ngomong-dewek) :D . Kagak. Ini cuma posting doank kok. Tenang-tenang yaa saudara-saudara … Tidak perlu panik dan semua akan baik-baik saja (huu … *timpukinsandal)

Melihat lebih rutin dan blogwalking ke blog-blog yang lain, ditambah nuansa lingkungan aku yang sedang ramai nuansa pernikahan, membuat aku jadi ingin memposting tulisan ini dengan judul seperti diatas. Godaan demi godaan itu ada, nyata, dan kasat mata. Ya … mungkin sebagai pelampiasan perasaan saja kali yah karena mengingat hampir setengah teman-teman dekatku sudah pada menikah semua. Ditambah lagi, kakak kandung aku akan segera melangsungkan pernikahannya di awal tahun 2013 nanti. Hmmm…….. siap-siap jadi anak tunggal nih. Hehe …

farmasi07itb.files.wordpress.com
Saat blogwalking, aku menemukan posting mengenai pernikahan yang ditulis oleh Covalimawati, Nurmayanti Zain, dan Nina RiskaAmalia. Yap. Mbak yang memiliki saham penuh di blog Runaway Diary itu kini sedang berbahagia hati dengan suaminya, karena mereka akan merayakan 10 Tahun Pernikahannya. Hehe … Selamat Ulang Tahun Pernikahan yaa mbak Cova. Selanjutnya, mbak Nurmayanti Zain. Si dia, paling demen banget yang namanya mosting mengenai pernikahan. Bacaannya, kadang bikin greget. Hehehe …. (ampun mbak :P) . Yang terakhir, mbak Nina Amalia Riska. Sebenernya bukan posting mengenai pernikahan sih, tetapi ia menjawab dalam ujaran pertanyaan yang pernah aku lontarkan dalam Liebster Award, 4 September lalu, ia mengatakan bahwa …

Tipe pacar yang setia itu gimana sih menurut kamu? Maaf Indra kalau untuk pertanyaan ini saya ga punya jawabannya. Soalnya adanya tipe calon suami sesuai keinginan saya (senyum-senyum sendiri).. dan setiap istri wajib mengikuti suaminya kemanapun pergi *jadi terharu baca tulisan sendiri :P

Hehe. Jadi tahu kalau mbak Nina Riska sedang mencari calon suami. Haha … Andai aku sudah berumur 26. Eh kalau ketuaan, 25 aja dah cukup yah? Haha #nawar

Belum Nin. Kamu tahu umurku kan? Hehe … Tetapi apa sih sesungguhnya arti harfiah dari menikah itu? Apakah sebagai aplikasi nyata dari cinta sejati… atau apa? Pernikahan memang indah, tetapi kan perlu perencanaan yang matang nan sedap untuk bener-bener melanjut ke jenjang ini. Hmm … yang jelas sih menikah itu tertanam dalam surat An Nuur ayat 24 :

"Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah."

Dan itu seperti terjadi pada kakak kandung aku yang hendak melangsungkan pernikahan pada Februari mendatang. Ya memang … menikah itu momen yang paling dinanti oleh banyak orang. Kalau soal jodoh sih … Insyaallah bisa dicari lah (atau malah datang sendiri). Tetapi yang terkadang suka menjadi dilema dalam rencana menikah biasanya satu. Mampukah kita menghidupi anak istri kita kelak telah berumah tangga nanti?

Bagi yang sudah berpenghasilan tetap sih bolehlah … menjenjangkan diri ke tahapan ini. Tetapi buat yang masih muda (seperti saya .. *huu lempar sepatu), belum bekerja, atau pekerjaan rawan labil (mudah putus), apakah sudah dikategorikan harus menjenjang ke tingkat ini? Banyak teman Facebookku yang mengajak semua insan manusia (yang masih single) untuk segera menikah, karena itu sebagai proses pensucian kita terhadap lawan jenis kita. Heitts…. Bentar dulu. Mampukah kau menghidupi anak istrimu kelak??? Sabda Hadits Riwayat Ibnu Majah mengatakan …

“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya”

Termasuk keluargakupun belum akan mengizinkan, jika menikah namun belum memiliki penghasilan yang tetap. Yang terpenting adalah, siapkan segalanya yang akan kau hadapi, sebelum kamu siap untuk mendayung perahu yang akan mengangkut pengikut-pengikutmu. Haha bahasanya gimana gitu yak :D

Kesimpulannya, aku tak ingin terlalu berharap siapa yang akan menjadi istriku nanti. Apakah itu dari teman lamaku, teman baruku, teman Fb, temannya teman, bahkan tidak menutup kemungkinan teman bloggerku. Hehehe … Yang utama adalah aku harus memegang teguh komitmen, dan harus tegas. Tidak akan menikah sebelum bener-bener sanggup secara fisik dan finansial. Masih muda memang buatku untuk membicarakan ini, tapi dorongan (dari teman dekat dan mantan-mantanku *caillah :D) untuk mengajakku menikah juga sudah banyak. Ya ya ya … kalau kata ayahku, kamu akan ada saatnya. Nikmatilah masa-masa sendirimu, sebelum itu hilang dan kamu akan menyesali itu…


Ohya, mbak Covalimawati ... Sekali lagi kuucapkan selamat ulang tahun pernikahan yang ke-10 yaa. Semoga tetep menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, dan Warrahmah. Aminn …  ^ ^

Minggu, 23 September 2012

Menjadi Yang Terpenting ….

Rebah dada saat senja tiba … Lemaskan diri dari kegiatan yang mengintai. Pepatah itulah yang ingin aku katakan untuk mengawali posting di senja hari minggu ini. Apapun yang kulakukan, aku berusaha untuk tidak hanya diam saja dalam gubuk istana yang berisikan alat-alat elektronik penghibur rohani ini. Sibuk … ataupun menyibukkan diri, buatku dua hal itu sama saja. Karena memang bisa sama-sama membunuh waktu senggangku yang seharusnya bisa aku lawan dengan cara berkegiatan apapun.

Dalam komitmenku, menjadi yang terpenting bagi banyak orang adalah harga mati. Berpikir dan berusaha demi mendapatkan apa yang disuka, sudah aku pegang teguh saat aku menginjak masa usia dini. Dengan mengajukan diri menjadi seorang pemimpin, atau berkontribusi penuh terhadap satu buah kelompok, sudah aku terapkan dalam kehidupanku. Dan nanti, mungkin aku akan meraih sebuah hal yang disebut ‘kepemimpinan’. Entah itu kepemimpinan dalam hal materis ataupun yang non-materis. Ammiinnn ….

Yah demikianlah intermezzonya. Apaa… tadi itu intermezzo???? Aaaaaa tidaaakkkk *ngamuk. Hahaha. Seperti biasa dan yang menjadi kebiasaan (entahlah baik atau buruk) aku setiap kali memposting apapun di blog ini. Memang itulah aku. Ciri khas yang akan lekat (Insya Allah) dan sudah diakui oleh reader blog aku. Hehe … Yah meskipun telah diakui sama Ocha Rhoshandha pada posting Liebster Awardnya bahwa ia sebenernya gak setuju dengan adanya intermezzo yang selalu aku berikan. Iya Chaa … Berdemokrasi itu penting. Namanya juga perbedaan pendapat. Iya kan … Hehe

Ah sudahlah. Terlepas dari apapun juga yang penting kini saatnya aku menuliskan postingan yang sebenarnya (kebanyakan intermezzo sih lu :P). Tetapi untuk yang ini, sedikit banyak ada sebuah korelasi yang cukup signifikan dengan adanya intermezzo tadi. Yap, kali ini aku akan mempublikasikan sebuah pra-project yang harus aku emban dari si boss komunitas Glen Tripollo. Hmm … Bagi yang tahu namanya……. Dialah dia. Pembuat grup Bloggers Shout Out!



Pasti sudah gak asing lagi buat sobat blogger yang udah jadi member yah. Nah buat yang belum tahu, aku mau ulas dikit nih mengenai Bloggers Shout Shout! Ini.

Bloggers Shout Out! Didirikan oleh aktivitis blogger yang bernama Glen Tripollo pada 20 April 2012. Bloggers Shout Out! Ini bertujuan dalam rangka membangun pemikiran masyarakat akan salah satu tema yang nantinya dibawakan oleh blogger. Mengeluarkan pemikiran kita, demi Indonesia yang lebih baik. Shoot out your thoughts, and make the better Indonesia. Demikianlah slogan uniknya, dan semoga aku dan teman-teman BSO yang lainnya bisa ikut berkontribusi dalam visi dan misinya. Amminnn …

Segelintir kalimat, aku memiliki dua tujuan kenapa aku mengikuti Bloggers Shout Out! Ini. Kedua (yang kedua dulu, yang pertama nanti belakangan yah…) ingin menambah teman dan sahabat blogger agar terjalin apa yang disebut ‘ukhuwah bloggeriyah’, modifikasi dari istilah persatuan untuk blogger. Hehehe … :D

Nah yang pertama, dan alasan yang paling utama, yaitu mencoba berreformasi menjadi blogger yang aktif. Salah satunya dalam kegiatan ini adalah dengan berkampanye (bukan kampanye parpol loh :p). Karena semakin luas wadah untuk berbagi pemikiran, semakin tinggi juga pengetahuan kita akan satu ide dan ide lainnya. Dengan sering berbagi pemikiran, kita akan menjadi orang yang terpenting dalam pengubahan kehidupan umat pribumi menjadi Indonesia yang lebih baik. Sesuai dengan jargonnya tadi, kita bisa mengubah Indonesia. Jadilah yang terpenting dalam bagian ini …


Demikianlah posting ini ditulis sebagai tugas dari Adminisius aliansi Bloggers Shout Out! Sebelum tanggal 30 nya. Terimakasih banyak buat kakanda admin Glen Tripollo yang telah menerima aku bergabung kedalam aliansi ini. Sekali lagi untuk sobat blogger, Jadilah yang terpenting dalam bagian mengubah Indonesia. Shoot out your thoughts, and make a Better Indonesia!!!

Bagi sobat blogger yang ingin melihat secara jelas atau ingin bergabung, silakan kunjungi di link Bloggers Shout Out.
Makasih … ^ ^

Kamis, 20 September 2012

Kumis atau Kotak-Kotak… Kau Pilih Yang Mana ????


Siapa yang sangka … pertarungan kedua calon gubernur (cagub) dan calon gubernur (cawagub) kali ini bakal berlangsung sengit? Ya … dari keenam pasang cagub dan cawagub yang saling menunjukkan kharismanya pada Pilgub Putaran Pertama beberapa bulan lalu kini tinggal menyisakan dua pasang yang akan memperebutkan kursi DKI-1. Mereka, Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli (Foke-Nara) dan Joko Widodo – Basuki Tjahja Purnama (Jokowi – Ahok) akan berjuang untuk mencapai titik finalnya melalui surat suara yang akan masuk ke dalam kotak Tempat Pemungutan Suara (TPS) oleh para pemilih di ranah Ibukota ini.

Meskipun aku bukanlah warga asli Jakarta, dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang menandakan aku adalah warga Depok, Jawa Barat, namun aku ikut menilai bagaimana janji berupa visi dan misi kedua cagub dan cawagub saat kampanye kemarin di TV. Karena kini aku lebih banyak bermukim di Jakarta, yang juga tempat dimana posting blog selalu ditulis ya di Jakarta ini :D , aku mau coba ulas dikit perihal Pemilukada ini. Kali ini, tanpa intermezzo ya. Intermezzo diliburkan … Haha

Sistemik memang, saat nasib warga Jakarta lima tahun mendatang tengah dihadapkan sebuah PR yang sangat besar (bahkan besarnya gak tahu ampe seberapa), apabila tidak dipimpin dengan orang yang tepat, maka akan jadi apa wilayah ini.. ? Heitt sebelumnya, aku mau bilang … Aku bukanlah tim sukses kedua cagub diatas. Sekali lagi ditekankan .. BUKAN TIM SUKSES Kedua CAGUB diatas. Aku akan mencoba untuk independen dalam menyikap beragam hal mengenai Jakarta dan Kepemimpinannya.

Foto : images.solopos.com
Ya. Tentu kalian sudah mengetahui dengan sangat gamblang bahwa kedua pasang rival ini memiliki ciri khas yang sudah menjadi 'dirinya'. Foke terkenal dengan kumisnya, sedangkan Jokowi terkenal dengan pakaian kotak-kotaknya. Tapi lebih dari yang diduga, ternyata visi-misi kedua cagub diatas bisa jadi sama lho sobat blogger. Sama-sama membuat Jakarta menjadi kota modern. Foke dengan slogan Jakarta Maju Terus, dan Jokowi dengan jargon setianya Jakarta Baru menjadikan kedua rival ini saling beradu debat mengenai rencana kepemimpinan mereka kelak jika terpilih nanti.

Ya. Ujaran saling sindir dan saling les juga mewarnai wacana media massa dan saat kampanye berlangsung. Bahkan tidak hanya berlangsung di masa kampanye, di masa tenang pun masih ada saja sindiran-sindiran yang ditujukan kepada rivalnya di momen apapun.

Secara garis besar kedua perebut kursi DKI-1 ini sebenarnya memiliki banyak potensi. Foke bisa didukung banyak warga Jakarta karena pengalamannya memimpin di kota ini, lantas Jokowi tidak sedikit juga yang mendukungnya penuh karena pengalamannya memimpin kota Solo yang dianggap mayoritas warganya, sudah berhasil. Bahkan, minoritas warga menolak dan seperti tidak rela jika Jokowi pindah memimpin Jakarta. Hmm … Bener-bener seperti pertarungan antara dua penantang yah.

Foto : jakarta.okezone.com
Yaaaa ……….. terlepas bagaimana kedua rival ini saling beradu kekuatan, karena memang (secara nyata) perolehan hasil survey beberapa lembaga riset menunjukkan, Foke – Jokowi benar-benar berbeda sangat tipis hasil persentasenya. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) contohnya. Hasil riset LSI yang juga pernah dilansir di pemberitaan Metro TV menyebutkan, Jokowi – Ahok mendapat suara 44,1 persen sementara Foke – Nara mendapat suara 44 persen. Itu baru survei. Nantinya, kita tidak akan tahu apakah masyarakat Jakarta lebih banyak memilih yang mana.

Bingung ya mau milih yang mana.. ? Tenang .. pemilik blog ini juga gak bakal milih kok. Hehehehe …. :D

Sekarang kita beralih ke yang lain. Ada yang berbeda dan seru dari Debat Kandidat Cagub dan Cawagub yang berlangsung di Metro TV, Minggu (16/9) lalu. Debat panas dan tegang mewarnai rasa emosi penonton saat mereka saling gempur-gempuran menyatakan visi dan misi mereka di depan publik. Belum lagi candaan-candaannya. Candaan yang selalu dibubuhi bumbu ‘sindiran’ tersebut makin mewarnai panasnya debat cagub saat itu.

Bagi yang sudah menonton tayangan Debat minggu lalu pasti menyaksikan adanya ‘guyonan’ yang pernah dicandakan oleh Nachrowi Ramli kepada Basuki Tjahja Purnama saat itu. Nara, yang sempat menimbulkan perdebatan dikalangan publik apakah bernada SARA atau tidak itu, sempat memulai dialognya dengan candaan ‘Haiyaa Haiyaa’, kepada Ahok, seperti halnya logatan etnis Tionghoa tertentu. Woow … Aku sempat berpikir, apa itu gak jadi persaingan makin panas yah???? Hehehehe …

Dalam hal transportasi, Foke memfokuskan untuk menangani peningkatan kapasitas angkutan umum, penjaluran MRT, pengendalian Electronic Road Pricing), pembatasan kendaraan pribadi, optimasi wadah untuk pedestrian dan lain-lain. Sedangkan pada Jokowi, beliau berambisi untuk membuat otoritas pelayanan transportasi Jabodetabek, mengganti (sebagian besar) Busway menjadi Railbus, memperbanyak armada busway, mengganti moda angkutan umum, pengimplementasian monorail, penandaan wadah MRT, pengendalian ERP dan pembatasan kendaraan pribadi melalui Nomor Polisi Genap-Ganjil dan sebagainya. Demikianlah program-program yang aku jabarkan secara singkat melalui masing-masing website resminya. Jadi pertanyaan aku kepada semua, Kumis atau Kotak-Kotak, kau pilih yang mana???? Semoga bisa menjadi panduan sahabat blogger yang akan memilih nanti.

Huff … Sepertinya hari ini memang sudah saatnya untuk sobat blogger yang bermukim dan berwarga daerah Jakarta untuk memilih. Ingatlah dan jangan lupa, pilihlah hanya pada pautan hatimu, dan bukan karena dorongan dari orang lain. Dan satu lagi, sobat blogger JANGAN SAMPAI GOLPUT. Golput, akan merugikan bagi jalannya demokrasi di negri ini. Lebih lagi, kontribusi satu suara saja bisa jadi memenangkan salah satu pasangan kandidat tertentu loh. Jadi, tidak ada alasan buat kalian untuk golput yah.


Salam Demokrasi bagi kita semua … Gunakanlah Hak Pilihmu dengan benar dan tepat  ^ ^

Ohya, Update Terkini  :   Joko Widodo - Basuki Tjahja Purnama (Jokowi - Ahok) telah UNGGUL dalam Hitung Cepat (Quick Count) di beberapa lembaga riset pada pemilihan pemilukada saat ini.



Sebagai pemilik blog catatan-indrayana saya mengucapkan ...

SELAMAT ATAS PENGUNGGULANNYA. 
JIKA TERPILIH NANTI, SEMOGA MENJADI PEMIMPIN YANG AMANAH KEPADA RAKYAT DAN BIJAKSANA.


Senin, 17 September 2012

Plural-is-Me (Event Workshop Media dan Keberagaman)


Assalammualaikum Wr. Wb. Akhirnya aku bisa kembali lagi mengetikkan jari-jari dan menuliskan posting di blog ini. Ya, setelah sempat hiatus selama kurang lebih satu minggu, belum sempat blogwalking, dan belum sempat membalas komentar teman-teman di posting sebelumnya. Hehe … Tetapi aku akan coba untuk menulis kembali sebagai jurnal pribadi dan berbagi pengalaman untuk teman-teman semua. Okelah Sip …

Biasalah. Kebiasaan buruk dan nakal. Intermezzo dulu. Haha ... Tapi singkat aja kok. Bagi sahabat blogger yang sudah berpartisipasi melalui Giveaway Catatan Indrayana, lima diantaranya adalah ...

1. Nufadillah
2. Rhoshandhayani K. T.
3. Nyi Penengah Dewanti
4. Bita Gadsia
5. Hadi Kurniawan

Terimakasih atas partisipasinya dalam mengikuti lomba yang bisa dibilang 'dadakan' ini. Bagi 3 besar yang terpilih nanti (maaf belum sempat baca semuanya.. Hehe) akan mendapatkan hadiah menarik. Sedangkan dua lainnya akan mendapat hadiah yang berkesan (apasih :p). Hehe. Tunggu saja kehadirannya. Kirimkan nama email kalian untuk kemudian di follow up oleh aku. Kirimkan melalui email dheindraagniaza@gmail.com sebelum tanggal 20 September 2012. Ditunggu yah ...


Plural is Me ... (Plural itu aku)

Apa yang ingin aku bagi disini adalah tentang apa yang aku dapat di Event Workshop Media dan Keberagaman selama tiga hari kemarin (Jum’at – Minggu 14 – 16 September 2012) di Wisma Makara Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Banyak ilmu yang bisa aku terapkan dalam aksi peliputan sebuah berita ketika kelak kita menjadi wartawan (Aaamiinnn), banyak bahan diskusi dan banyak mendapat teman. Hehe… Para pesertanya pun bukan hanya dari ranah Jabodetabek saja. Ada juga yang dari Serang Banten, Bandung Jawa Barat, Pati, Semarang Jawa Tengah dan Yogyakarta. Seluruh perwakilan dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di dominan kampus di Pulau Jawa berkumpul di wisma yang terletak di Universitas nomor satu di Indonesia ini, kemarin.

Selama workshop, kami tidak hanya berduduk, berdiskusi dan di tempat saja, tetapi kami juga disuguhkan untuk bertandang ke lokasi konflik yang bisa kami angkat menjadi berita. Dalam hal ini kami disuguhkan untuk bertandang ke lokasi konflik Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin, Bogor, Jawa Barat pada hari Sabtu (hari kedua). Namun, rincian perjalanan kami selama di GKI Yasmin dan obrolan-obrolannya, akan aku ulas di posting selanjutnya yah.

Usman Kansong. Seorang direktur pemberitaan Media Indonesia, dalam diskusi ini menuturkan bahwa dalam konteks keberagaman, di era reformasi ini pers semestinya lebih leluasa memberitakan keberagaman. Akan tetapi, tambahnya, sebagian penerbitan, terutama penerbitan berbasis agama justru mengancam dan menolak kebergamaan dalam pemberitaannya. Pers umum atau pers mainstream yang semestinya berfungsi menengahkan pers berbasis agama yang acap menyuarakan anti-keberagaman itu, dalam tingkat tertentu justru turut terjebak dalam pemberitaan yang justru turut mengancam keberagaman.

Dikatakan, bahwa pemberitaan mengenai keberagaman oleh pers-pers tertentu cukup dapat ‘menasihati’ para pembaca untuk mengenal lebih dekat tentang agama apa yang dipeluknya. Dalam hal ini, mayoritas pers tertentu yang dilansir aku tadi, adalah Islam. Kendati demikian perlu diingat kembali bahwa tidak semua media Islam menyuarakan anti keberagaman. Hanya media tertentu saja yang acapkali melakukan hal seperti itu. Tetapi perlu ditegaskan disini, bahwa pembaca berita yang dipublish oleh media Islam tertentu tersebut tidaklah sedikit. Menurut Kansong, pada majalah Hidayah, misalnya, berdasarkan data Media Planning Guide 2008, merupakan majalah dengan jumlah pembaca terbesar, yakni 531.000 pembaca. Lalu, majalah Sabili, pada 2002-2004, bisa menjual 140.000 eksemplar per edisi dengan jumlah pembaca mencapai sekitar satu juta orang (Fealy and White, 2008).

Trainer Daniel Awigra, salah satu pengurus besar komunitas Sejuk mengatakan, toleransi keberagaman di Tanah Air sudah kurang diaplikasikan kepada masyarakat tertentu. Mereka yang dinilai sebagai ‘pejuang Iman garis keras’, seperti dengan lancar melabrak apapun yang mereka nilai dapat mengancam ajaran agamanya. Dengan dalih akidah, mereka seakan buta mata terhadap sekeliling yang mereka tidak sukai.

Cobalah kita menatap realita yang pernah terjadi dan mengorbankan hampir seluruh umat tidak tahu menjadi terlantar dan tak tahu harus berbuat apa. Kasus Sampang, Jawa Timur, menjadi contoh legitnya. Anarkhisme yang diperuntukkan bagi masyarakat Syiah seakan menjadi solusi bagi penyerang dalam memberantas apapun yang menurut mereka (penyerang) tidak sesuai dengan ajaran Islam yang seharusnya. Di Cikeusik, Banten, pembantaian warga Ahmadiyah juga menjadi dalih serupa bagi si penyerang mengapa mereka menyerang warga yang tergolong minoritas tersebut. Yang terakhir, contoh kasus yang paling menyedihkan dan menyayat hati kita semua, adalah aksi diskriminasi oleh pemerintah dan ormas Islam garis keras, yang menolak pembangunan Gereja GKI Yasmin di Bogor. Sahabat blogger bisa menyimak dengan lengkap ulasan wawancara khusus aku dan rekan-rekan dengan Kuasa Hukum Jemaat GKI Yasmin di posting selanjutnya.

Tutur demi tutur, kami semua sepakat bahwa penyebab dari aksi-aksi yang sangat tidak diharapkan bagi kaum pluralisme ini disebabkan oleh adanya diskriminasi oleh kaum minoritas. Seharusnya, Negara menjamin setiap umat beragama memeluk keyakinannya, seperti dilansir oleh Undang-Undang Kenegaraan Pasal 29 tersebut. Tetapi nyatanya, kaum ‘terpinggirkan’ tersebut malah makin terpinggirkan saja. Bagaimana nasib anak-anak, wanita, dan mungkin manusia paruh baya beserta orang-orang yang tidak tahu libatannya nanti? Apakah harus, mereka terus menanggung derita akibat dari keminoritasannya? Belum lagi, para korban tewas yang terjadi akibat konflik keagamaan ini.

Lebih lanjut, trainer dalam sebuah materi yang berjudul Teknik Meliput Berita Keberagaman menuturkan, ada beberapa hal yang perlu untuk bekal kita menulis berita keberagaman. Salah satunya, pilihlah diksi yang tepat. Seringkali media memilih pilihan kata (diksi) yang kurang tepat sehingga memicu kekuatan pembaca akan keyakinan pemikiran yang dimilikinya, misalkan kata ‘Tobat’, ‘Sesat’, dan lain sebagainya. Contoh, “Sabtu lalu, sekelompok warga yang terdiri dari kelompok (nama kelompok) akhirnya memilih untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar”. Wartawan yang benar, tidak menggunakan kata tobat dalam publikasi beritanya karena ia bukanlah penghakim agama, melainkan itu sebuah penilaian masyarakat tertentu saja.

Kedua, independensi oleh Cover Both Side (dua sisi narasumber) juga perlu kehati-hatian. Dalam berita konflik, cover both side (selanjutnya aku singkat saja jadi CBS) yang hanya meminta klarifikasi dari dua sisi yang bertarungan, dalam hal ini kedua pemimpin kubu terkonflik, dikhawatirkan dapat memicu kerusuhan yang lebih besar lagi. Woow ... kenapa bisa begitu? Karena keberimbangan berita perihal siapa yang benar dan salah tidak dapat dipertanggungjawabkan. Keduanya kan mengklaim salaing benar, lalu siapa yang bisa memberikan pernyataan? Carilah narasumber ketiga yang ahli namun bersifat netral alias plural. Sekali lagi Plural. Tengahkanlah kedua kubu dengan pernyataan pihak ketiga itu. Dengan begitu, peluang untuk mereka berdamai pun bisa semakin besar. Tanggung jawab wartawan tidak hanya menulis berita dengan CBS dan selesai. Tetapi menjaga harmonisme antarumat juga menjadi keharusan karena kalau kedua kubu sudah berkonflik ... Siapa lagi yang akan melerai selain kita?

Sebenarnya masih ada yang lain lagi, sayangnya modul yang merupakan sumber utama rangkuman materi diskusi ini tertinggal di asrama dimana aku menginap. Yaahhhh …. #penontonkecewa

Hehe. Terlepas dari hal yang dirasa cukup menambah sengit ditiap diskusinya karena dalam forum ini memang membahas total mengenai pers dan keberagaman, tetapi disini semua tetap dan selalu solid dalam mengedepankan sikap ‘pluralistik’ sebagai bekal ketika akan bekerja di media nanti. Kami semua sepakat, akan selalu bertoleransi penuh akan keberagaman dan tidak pernah memihak kepada satu golongan saja. Apalagi bagi kaum minoriti yang tertindas … Rasa solidarisme antargolongan iman itu wajib kita tumbuhkan dalam hati karena pada dasarnya kita semua adalah manusia, yang butuh dan perlu mendapatkan hak asasi yang sebenar-benarnya.



Because we are … Pluralism Alliance. Plural-is-me  ^ ^





Sekali lagi : Giveaway Catatan Indrayana TELAH BERAKHIR. Terimakasih kepada kalian yang telah berpartisipasi. Untuk hadiah mohon tunggu konfirmasi. Kirimkan email kalian (peserta) ke email dheindraagniaza@gmail.com paling lambat tanggal 20 September 2012

Ditunggu yah. Sebelum terlambat ^ ^
Karena kalau terlambat, konsekuensinya antara lain keterlambatan pembagian hadiah atau pembatalan hadiah sama sekali. Hehehehe :D


beberapa sumber dan gambar dari www.sejuk.org