Jumat, 22 Juni 2012

HUT 485 DKI Jakarta ‘Menyikapi beragam permasalahan di Jakarta’


Lagi lagi… lagi lagi… lagi lagi… dan lagiiiiii….. harus terlambat menulis artikel untuk mengisi forum blog ini. Setelah lagi-lagi terbengkalai hampir lewat 7 hari (alias 1 minggu) oleh karena sesuatu hal, aku coba mengharuskan diriku menulis postingan lagi di blog ku ini. Untuk tetap eksis di dunia per-blogan, tentunya kontribusi dan dedikasi itu tetap patut diutamakan yah :D

Yap. Minggu ini memang sedang banyak waktu bersama sepilah-pilah kelompok dalam beberapa hari. Kalau dalam postinganku sebelum yang ini, Menatap Kekecewaan Timnas Pada Babak Awal, aku menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dan mensorak-soraikan tim Indonesia di Istora Senayan, keesokan harinya aku menghabiskan waktu di rumah teman di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, semalam suntuk, karena harus menyelesaikan project dari kawan terdekatku, Mauludi Rismoyo. Wah sesampainya di rumah, badan remuk rasanya… Werrrr…..

Heitttt… belum berhenti. Hari sabtunya aku berangkat bertamasya bersama adik-adik kecil yang mungil dan imut-imut ke Seaworld, Ancol. Yap, aku dan tim sekawanku Taman Ceria Negeriku berliburan dan bersenang-senang disana. Wah betapa cerianya anak-anakku disana (anakku, bukan ‘anak kandungku’ lho :p). Pagi hingga sore hari yang begitu mengesankan yang takkan pernah kulupakan begitu saja di dalam ingatanku. Dan tahukah kamu… salah satu dari anak-anakku yang ikut kesana terus-terusan pengen nempeeellll aja denganku. Hehehe… Namanya Suci Ramadini, gadis kecil kelas 2 SD Tomang yang saat dalam tamasya selalu minta gendong diatas punggungku.



aku (kiri), suci ramadini (kanan)





Hahahahah. Sudahan ah Intermezzonya :D. Itu semua karena aku ingin berbagi pengalaman kebahagiaan bersama sahabat blogger. Tapi tema sebenarnya dalam postingan ini bukan itu lho. Sekarang, aku mau berbagi tulisan mengenai kota Jakarta. Nah, siapakah sahabat blogger disini yang pernah atau memang bertempat tinggal di Jakarta? Share lebih jauh disini yuk :)

Tepat tertanggal pada tanggal ini, 22 Juni 2012, kota Jakarta memperingati HUT nya yang ke 485. Mulai dari ucapan selamat, pameran, pesta, ondel-ondel, sampai live performance dari Ancol oleh stasiun TV RCTI dan SCTV yang tayang secara bersamaan. Ya, meskipun aku hanya menyaksikannya di TV, namun perayaan HUT Jakarta kali ini bisa dikatakan berlangsung cukup antusias oleh kalangan Jakartanese.

Hmm… Ikut mencoba meramaikan Hari Ulang Tahun Kota Jakarta 485, aku akan meleberkan sedikit nih mengenai kondisi Jakarta yang bisa dikatakan sudah di ‘ambang kehancuran’. Wah kenapa begitu? Jakarta, sebenarnya sudah dalam tahap ‘sudden death’, karena lingkungan dan tata ruangnya yang sudah kian tak memadai. Lihat saja di sisi-sisi pusat Ibukota yang selalu macet dan tak teratur. Belum lagi ketika pagi atau malam menjelang, ditambah lagi jika cuaca sedang hujan. Uuuhhh…. Jangan harap sahabat blogger bisa pulang dari lokasi A ke lokasi B dalam waktu kurang dari satu jam!! Hahahaha …

Kawasan-kawasan itu diantaranya Sudirman, Thamrin, Gatot Subroto, Matraman, Cengkareng, Tomang (tempat ku mengajar), Ciledug, dan sampai ke daerah Ancol. Bahkan, yang ada di pinggiran Jakarta pun juga udah mulai kena kerasanya. Daerah itu adalah Rawamangun, Jatinegara, Kalimalang (daerah terparah yang pernah ada), Kelapa Gading, Cawang, Lenteng Agung, Lebak Bulus, dan semua pinggiran-pinggirannya. Jadi kesimpulannya adalah, Jakarta sudah nggak ada area bebas lagi. Semua daerah pasti bakal berhenti secara serentak dan di waktu yang sama. Utara, selatan, barat, timur, 85% jakarta sudah pasti dinyatakan lumpuh…

Yang kedua, asap kebul dan polusi udara mendera dimana-mana. Terutama saat aku sedang naik motor dan berada tepat dibelakang bis kota yang kadang berhenti kadang pula jalan. Bruum bum bum bummm…. Asapnya begitu hitam mengenai wajahku. Reflek saja aku langsung tutup hidung dan mengendalikan setir motor hanya dengan satu tangan. Tapi tentu saja seketika aku langsung membuka hidung kembali, karena sahabat blogger tahu… berbahaya mengendarai motor hanya dengan satu tangan. Betul kan itu?? :D

Yang ketiga, Banjir. Namun demikian alhamdulillah rumah tempat tinggal aku mengisi blog ini berada di geografis yang cukup bebas dari ancaman ini. Kendati dari itu yang aku selalu hindari adalah ketika banjir jalanan melanda dengan ketinggian diatas 20 cm, karena saat itulah motor aku pasti mogok. Disamping gak bisa berbalik arah karena macet, aku mau gak mau menerobos ‘jalur berbahaya’ itu karena gak ada pilihan lain. Benar-benar sebuah nasib yang harus diderita buat warga Jakarta yah…

Kudengar lagi, situs berita CNN telah merilis dan mengabarkan tentang 10 kota yang paling dibenci di dunia dalam situs resminya. Dan kalian tahu salah satu dari kota itu apa? Jakarta!!! Yap, Jakarta dinilai sebagai kota polutan tertinggi, tata kota yang tidak teratur dan kemacetan yang sudah bikin para pengendara kendaraan bermotor naik darah. Wajar saja jika para wisatawan asing merasa muak akan lingkungan ini dan memilih untuk berkunjung ke Bali sebagai kota yang adem, menurut mereka.

Huffttt…. Kalau udah teriak-teriakan mengenai kota Jakarta, sudah gak akan ada endingnya dah. Makanya disini, aku dan mungkin mewakili sahabat blogger yang lain yang tinggal atau pernah berada di Jakarta berharap penuh kepada seluruh elemen Jakartanese (pemerintah, DPRD, sampai rakyatnya) untuk membuat Jakarta lebih baik dari sebelumnya. aku pun berharap penuh kepada para calon pemimpin DKI kelak nanti (mau Foke, Jokowi, Hidayat, Faisal, ataupun Alex) agar lebih memperhatikan tata kota dan pengaturan trafik jalanan di Jakarta. Jakarta harus meminimalisir kemacetan agar tahun depan nantinya tidak semakin parah.

Kendati seperti itu, aku tetap betah kok tinggal di Jakarta. Alasannya simpel, karena Jakarta tempatnya alat-alat komputer dan hardware terbesar kedua setelah Batam. Jadi kalau aku mau beli-beli alat komputer, gak perlu jauh-jauh dong. Hehehehe :D

Sukseslah untuk Jakarta, baik semua elemen pemimpinannya maupun manajemen kotanya :)




Akhir kalimat, aku mengucapkan..

Selamat Ulang Tahun ke-485 Kota Jakarta yaa …. Semoga kedepannya Jakarta bisa lebih baik lagi kedepan ^ ^


Jumat, 15 Juni 2012

Menatap Kekecewaan Tim Indonesia pada Babak Awal 'Ayo Indonesia Bisa!!!!'


Alhamdulillah.... Akhirnya jari-jari ini bisa kembali mengetikkan beberapa kalimat demi kalimat di keyboard ini. Setelah lagi-lagi harus 'mencampakkan' blog ini oleh karena pekerjaan di sana-sini, saya kembali untuk sahabat blogger yang ingin share-share pengalaman dan ilmunya di dunia perblogan. Hehehe :D. Yap, inspirasi memang harus tetap berjalan dikarenakan tuntutan pembaca yang pastinya akan semakin banyak. Betul tidak kawan?

Inspirasi aku kali ini datang dari dua orang kerabat saya yang kini ikut andil dalam ajang mengharumkan nama bangsa. Wah siapakah itu? Apakah para pemain bola? Atau para kontestan ilmu science di luar negeri? (hehehe *ngarep:p). Ooh bukan bukan... Ini cerita tentang dua atlit perwakilan timnas Indonesia yang berjuang dalam ajang Djarum Indonesia Open 2012 yang digelar di Istora Senayan beberapa waktu lalu. Mereka berdua adalah Riestya Nugraheny dan Febriani Endar Kusumawati, yang tampil pada menit-menit akhir pertandingan pada hari Rabu, 13 Juni 2012 lalu. Namun sayang, perjuangan 'duo pair' pada akhir malam itu kurang memberikan sumbangsih hasil yang memuaskan.

Tapi sebelum kita beranjak lebih jauh ke wawancara duo pair itu saya ingin berbagi kesenangan terlebih dahulu ni buat sahabat blogger semua. Perjalanan bermula dari kediaman saya di daerah Pesanggrahan, Jakarta Barat bersama kedua teman dekat saya, Indra dan Bayu yang rela datang jauh-jauh dari Serang, Banten ke Jakarta. Sebenarnya kondisi aku saat itu sedang capek-capeknya, karena aku juga baru pulang dari Rawamangun, Jakarta Timur, sorenya. Jadi aku disuruh pulang kerumah dan langsung bergegas kembali jalan ke Istora untuk liputan. Ya aku harus melakukan ini karena memang mau liputan agar diserahkan sama pemred saya di Persma Orientasi UMB. Tanggungjawab itu penting *halah :p

Rasa capek badan tidak jadi penghalang semangat kami untuk menyaksikan sekaligus liputan ringan mengenai acara Djarum Indonesia Open itu. Selepas sholat maghrib kami bertiga menaiki bis kota, menuju Blok M dan kemudian disambung naik Busway Transjakarta. Behhh.... Macet gila sepanjang Sudirman. Ditambah, bis kota yang saat itu sedang sesak-sesaknya. Haduuhhh.... Betapa kejamnya Jakarta.

Nah dari sinilah kesenangan bermula. Di awal kami masuk melalui pintu utama tiba-tiba kami disuguhkan para SPG-SPG cantik mengajak kami untuk mendukung Indonesia melalui kata-kata di Facebook kami (Ehemm... Ehemm... SPG :D). aku melontarkan kalimat semangat untuk Indonesia pada gambar berikut ini :


(screenshot)





Setelah selesai kami disambangi para SPG-SPG itu (dengan wajah riang gembira), kami mulai memasuki arena Press Media (dalam bahasa festival sering disebut Media Center) sebelum akhirnya ditolak sama mbak yang berjaga disana. Alasannya, karena nama-nama kami nggak terdaftar di daftar wartawan itu. Hik Hik... Hik...

Eitss.. belum berhanti. Reporting must go on. Kami memutuskan untuk menonton langsung pertandingan dengan merogoh kocek sekitar Rp. 30.000 per orang. Gak apa-apa lah. Semakin esok hari semakin mahal, katanya.

Suasana memanas saat pertandingan sengit antara Timnas Indonesia melawan Timnas Thailand di awal kami masuk arena tontonan. Semua supporter disana begitu keras dan lantang berteriak 'IN-DO-NE-SIA' !!!! Dung dung dung dung dung.... Riuh penonton disana seakan memprovokasi kami untuk ikut berteriak mendukung Indonesia. Setiap pukulan dan smash dari tim kita menjadi pemicu semangat kami untuk terus berteriak, berteriak, dan berteriak. Samapi-sampai aku mulai kehabisan suara saat pertandingan berakhir dan mulai pergantian pertandingan baru.

Nah kita kembali kepada kisah duo pair dari atletikal Indonesia yang aku sebutkan di awal tadi. Sayangnya, atlit yang datang dari Sleman, Yogyakarta dan dari Solo, Jawa Tengah itu kurang maksimal dalam memperoleh angka saat bertanding melawan pemain-pemain senior dari China. Ketika kami coba ke belakang ruangan dan inisiatif bertemu dengan keduanya untuk wawancara, kami coba mencari tahu informasi mengenai jalannya pertandingan ini dan seputar permainan mereka.

Gimana perasaannya setelah mengikuti acara yang bergengsi ini? Apakah ini kali pertama kalian ikut kompetisi seperti ini?
Tya : Ya senang banget mas. Ini sebuah pengalaman kami yang sangat berharga. Terang saja ini baru sekali sudah dihadapkan sama pemain-pemain yang sudah berpengalaman. Jadi ya... ini bisa jadi pengalaman kami banget untuk lebih baik lagi kedepannya.

Apa sih yang menjadi keistimewaan saat kalian mengikuti kompetisi ini?
Any : Ya... bisa dikatakan dari poinnya, berikut pengalamannya. Ini benar-benar menjadi kebangaan tersendiri bagi kami semuanya.

Awal mula kalian bisa mengikuti kompetisi ini dari apa sih?
Any : Haha. Sebenarnya sih dari kerabat kami. Kami juga sering menyambangi teman-teman kami. Nah kebetulan dari klub sendiri kita bisa tahu bagaimana kualifikasi mereka, apa yang sedang mereka ikuti... Jadi kita bisa dibawa ke sini.

Bagaimana sih kalian menilai kekuatan lawan saat pertandingan tadi?
Tya : Yang kami harus akui adalah mereka lebih istimewa dan paling dibanggakan, karena sudah pernah merambah tingkat satu dunia... Jadi ya... buat kami itu bukan masalah lah.

Adakah kesulitan tersendiri dalam menghadapi lawan saat pertandingan tadi?
Tya : Hanya bisa berkata, TANGGUH.... Hahaha. Kuat banget lah yang pasti. Mungkin faktor mental kami yang kerapkali 'fluktuatif', dan kita juga masih kalah permainan,  dan pengalaman pastinya. Kita ini kan masih belum terlalu menguasai luar negeri juga, nah kan mereka udah kelas satu dunia. Jadi ya... begitulah. Hehehe

Adakah harapan untuk kalian bisa menyambangi kompetisi yang lebih tinggi lagi?
Tya : Ya pastinya ada. Cuman kita harus terus lebih berusaha aja. Makasih ya atas dukungannya...



(screenshot)

Tya (kiri), Any (kanan)

Ya mungkin tidak hari ini mereka bisa berkontribusi lebih jauh lagi untuk kemenangan kita. Tetapi yang perlu diambil hikmah dari dan bagi seluruh umat manusia khsusunya atlit-atlit kita, perbanyaklah pengalamanmu. Karena pengalaman pasti akan menjadikan kita pribadi yang lebih baik lagi kedepan. Betul bukan sahabat blogger?

Tetap dukung atlit kita Indonesia melangkah maju ke kemenangan tertinggi dan harumkanlah nama bangsa Indonesia. Indonesia Bisa!!! Indones-Yeah !!!!!


*To Tya dan Any : Tetap semangat yah. Jangan pantang menyerah. Masih banyak kesempatan lain yang bisa jadi pengalamanmu kedepan. Kami, warga Indonesia akan terus selalu mendukungmu :)

Minggu, 10 Juni 2012

Peranan Komunikasi ... (Part 1) : Bentuk Penyelesaian Masalah

Wah, tanpa terasa sudah ada 10 hari saya sedikit 'mencampakkan' dunia per-blogan. Hehehe... Sebenarnya dari kemarin sudah ada bayangan mau menulis apa tetapi bingung mau menuangkan melalui kata-kata apa. Dan sekarang, saya mencoba untuk membuka kembali aksi 'tulis-menulis' tulisan di wadah bebasku ini, Catatan Indrayana. Sebagai tema dari tulisan yang aku tuangkan ini, saya coba mengangkat peranan komunikasi dalam pemecahan masalah. Ya, betul. Karena beragam masalah 'pelik' yang kita hadapi baik itu kecil ataupun besar tidak akan selesai secara tuntas tanpa adanya komunikasi berjalan. Benarkah begitu?

Inspirasi aku kali ini muncul dari seorang sahabat saya yang bernama Manda. Ia adalah teman dekat saya di tempat mengajar Taman Ceria Negeriku yang kebetulan sempat bertatap muka empat mata bersama aku, beberapa jam sebelum tulisan ini aku buat. Pada perbincangan kami itu, Manda menceritakan keluh kesahnya ketika ia tengah dilanda masalah yang berat dan kegalauan berlebih. Aku memperhatikan... dan aku mencoba untuk memberikan secercah motivasi untuknya agar ia bisa menghadapi masalah ini dengan pikiran dingin dan tindakan yang nyata.

"Gue bingung banget In... Apa yang harus musti gue lakuin sekarang???" kesalnya saat Manda mencoba mengeluarkan unek-uneknya kepadaku.

Manda mengutarakan suasana hatinya kepadaku betapa ia sedang dilanda galau besar. Ya. Ternyata ia tengah berkonflik kepada ayahnya mengenai peristiwa yang nggak pernah Manda duga. Pasalnya, ayahnya Manda pernah memarahi Amanda secara berkoar-koar didepan kerumunan orang-orang yang tengah berbelanja. Terang saja hal itu membuat perasaan Amanda sakit dan sedih. Bagaimana mungkin seorang ayah mau berkoar-koar memarahi anaknya didepan khalayak umum? Apakah sangking sebegitu fatalnya kesalahan Amanda sehingga orangtuanya tidak lagi memikirkan perasaan hati karena psikis diri dikuasai oleh emosi sesaat yang merugikan?

Semenjak saat itu, Amanda menjadi pemurung dan tidak banyak memasang rias gembira di raut wajahnya. Setiap malam dan setiap ia berada di kasur tidurnya, Manda mengaku sering mengurung diri dan menangis-nangis mengapa konflik ini bisa terjadi. Aku yang mendengarkan curahan hatinya pun merasa terangsang. Betul sekali. Gadis mungil yang satu ini memang butuh motivasi dari kawan dekatnya, ya dalam hal ini aku. Dan aku coba berikan ia secercah kalimat motivasi, dan sebuah perkataan penyelesaian. "Ndha, hanya satu yang bisa menjadikan masalah kamu dan ayah kamu selesai."

"Berkomunikasilah !!!!"

Hanya dengan berkomunikasi hubungan antara individu satu dengan yang lainnya saling terikat. Tanpa komunikasi, kita tentu tidak bisa mengungkapkan isi hati kita kepada seseorang, karena kita adalah makhluk sosial (makhluk yang saling membantu). Kamu bisa menceritakan apa yang kamu suka dan apa yang kamu tidak suka kepada teman kamu, saudara kamu, atau bahkan ayah ibu kamu. Dengan lapang hati dan perasaan saling memaafkan tanpa dibumbui rasa ego dalam diri, serta dibubuhi kecap komunikasi hasilnya akan terasa manis dan tidak ada lagi perselisihan yang terjadi.

Memang terkadang, ego bisa jadi penghambat seseorang untuk melakukan sesuatu, apalagi meminta maaf. Jangankan meminta maaf, berkata sepatah katapun terkadang kita tidak mau. Aku juga pernah mengalami masalah yang sama seperti Manda, dan ini terjadi kepada aku dan temanku juga, Immanuel. Disaat kami tengah 'sleek' soal postingan di Facebook yang bisa membuat kami saling besar ego, kami sempat vakum berkomunikasi dua minggu lebih. Tapi daripada konflik ini berlanjut dan kesenjangan diantara kami kian membesar, akhirnya aku memberanikan diri untuk berkomunikasi, meminta maaf terlebih dahulu dan akhirnya kami pun berbaikan kembali.

Dari sekian banyak cerita masalah Amanda kepadaku memang cuma satu itu yang paling membuat dia galau. Untuk menenangkan hatinya, aku hibur saja dia dengan kalimat-kalimat motivasiku. Dan anjuran terbaik yang aku berikan kepadanya adalah cobalah untuk berkomunikasi. Peranan komunikasi ternyata cukup andil dalam pemecahan masalah juga, dimana seseorang yang berkonflik butuh yang namanya 'klarifikasi', atau pernyataan yang nantinya akan jadi koreksi bagi si pengkonflik itu.

Cerita Amanda tadi benar-benar bisa dipetik sebuah pelajaran dan inspirasi bagi kita semua. Kita perlu mengutarakan segala sesuatu dengan berkomunikasi. Ketika komunikasi itu terjadi, dalam sebuah masalah apapun mari kita hilangkan sejenak ego dalam diri kita dan memberaikan diri untuk mencoba mendamaikan suasana. Bisa dalam hal meminta maaf atau mengklarifikasi apa yang sudah terjadi. Komunikasi itu perlu, dan harus. Semangat hidup manusia sosial untuk saling membantu dan bekerjasama satu sama lain.

Mulailah rajin berkomunikasi kepada sesama agar tali hubungan kita dan yang lainnya tetap terjaga!!!  ^ ^

Kamis, 31 Mei 2012

Galau dan Antisipasinya



Yeahaaa..... kalau urusan kata yang satu ini, pasti bakal susah buat diobatin dah. Yup, ini bukan penyakit juga bukan sebuah gejala. Namanya galau. Hehehe. Bicara tentang galau, pasti semuanya pernah merasakan yang namanya galau bukan? Betul sekali. Dalam kehidupan kita pasti pernah merasakan yang namanya galau. Galau karena pacar, galau karena orang tua, galau karena sahabat, pokoknya macam-macam lah. Tapi, sebeanrnya apa sih penyebab utama dari efek ‘galau’ itu? Dan bagaimana cara mengantisipasinya?

Meskipun kata galau adalah sebuah pembentukan kata hasil dari trending habit masyarakat remaja, tetapi efek dari galau sudah seperti melatah ke seluruh anak-anak muda yang tengah merasakan kegalauan itu. Dan paling banyak dominan adalah galau terhadap pacar. Iya, memang tidak dapat kita hindari efek kegalauan yang disebabakibatkan oleh satu atau dua hal yang tidak kita inginkan, misalnya habis putus, pacar kita tengah menyukai orang lain, dan lain sebagainya. Kemudian, jika sudah begitu apa langkah terbaik buat menghilangkan kegalauan itu? Adakah antisipasi buat kita terhindar dari kegalauan?

Jawabnya, ada. Di negara demokrasi semacam ini tidak ada yang tidak mungkin. Betul nggak? Hehehe (bukan bicara politik yoo :p).

Galau bisa muncul karena ada masalahnya. Nggak mungkin galau kalau nggak ada masalah. Yang terpenting adalah, selalu ikhlas, terima apa adanya, relakan, dan perjuangkan selagi masih bisa.

Sebenarnya galau itu cukup penting dalam kehidupan kita, lho. Lah kok bisa?? Ya iyalah. Dengan galau, kita dapat memetik pelajaran berharga agar kita tidak melakukan hal yang sama terulang kembali. Galau juag bisa makin menambah semangat kita untuk lebih baik kedepan. Galau, menatap masa depan menuju lebih baik. Hidup Galau!!!! (Hayyah >_<)

Tapi itu benar kok. Nah makanya kawan-kawan jangan salahartikan kegalauan itu selalu berdampak negatif. Ada positifnya juga kok. Galau berarti orang itu telah menyesali perbuatannya atau mengoreksi dirinya agar bisa jadi probadi yang lebih baik. Tapi jangan kelamaan galau juga, ntar kegiatan kuliah ama kerjaan jadi kebengkalai lagi. Kalau ntu mah, udah galau stadium 3. Ahahaayyy :D

Nah ada juga nih langkah antisipasinya kawan. Jagalah hubungan baik dengan orang yang berada di dekat2 kita. Baik itu orang tua kita, pacar kita, sahabat kita atau siapa aja. Bila ada konflik, selesaikanlah dengan baik-baik. Bila masalah tak terselesaikan, obat manjurnya adalah refreshing ke luar kota alias jalan-jalan. Coba deh kawan-kawan berkunjung ke kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Rasakanlah udara dingin dan pemadangan pegunungan yang segar bisa menghilangkan kegalauan kita bahkan dalam sekejap mata!!! Hehehe. Tapi itu hanya dilakukan bagi kawan-kawan yang tengah dilanda galau berlebih loh. Kalau setiap hari galau jalan-jalan terus, ga nanggung yaa deposit finansial kawan-kawan. Hahahaha :D

Semangat galau untuk semuanya deh!!! Jika kawan-kawan mempunyai opini lain mengenai galau, share-share disini yuuk… J

Minggu, 27 Mei 2012

Memaknai ‘Bintang Jatuh’



Bintang jatuh (atau falling star) adalah salah satu peristiwa yang cukup langka terjadi selama hidup di dunia, bahkan bila dihadapan mata kita langsung. Biasanya, peristiwa yang jarang-jarang terjadi ini selalu diiringi dengan permohonan kecil (atau Make a Wish), seperti yang ditampilkan di sinetron-sinetron atau di film-film. Hehehe… Betul tidak sahabat blogger?

Aku sempat melihat bintang jatuh ketika aku sedang bersama dua teman seniorku di Persma Orientasi UMB, Dimas dan Rizky. Kejadiannya sekitar jam setengah 11 tadi. “Ya Allah… Bintang jatuh. Aku harus segera make a wish ni,” ucapku dalam hati saat secara tidak sengaja dan mata spontan menatap langit malam yang begitu cerah. Langsung aku memejamkan mataku dan mengangkat kedua telapak tangan macam berdo’a dan berharap impianku bisa terwujud di masa depan nanti. Ya, kalau boleh aku umbar sedikit si, permintaanku sebenarnya ga banyak. Aku hanya ingin pacar yang setia dan baik hati (pasca-pemutusanku dengan dirinya), dan ingin sukses!!!! Ya iyalah Iin… siapa aja pasti ingin sukses lah -__-

Namun demikian, apakah makna ‘bintang jatuh’ harus selalu diartikan dengan memohon sebuah permohonan belaka? Atau itu hanya mitos yang tumpang tindih akibat trending habit para selebrita media? Hmm… Memang, untuk memaknai ‘bintang jatuh’ itu sendiri memiliki beragam filosofi bagi orang yang ingin mencernanya. Tapi satu yang perlu diketahui adalah, bintang jatuh adalah fenomena antariksa. Dan tampaknya itu akan menjadi jauh atau bahkan tidak relevan terhadap ‘pemikiran’ akan pengkabulan do’a manusia.

Bagaimana sahabat blogger memaknai ‘bintang jatuh’ itu? Apakah peristiwa alam itu akan selalu dikaitkan dengan permohonan keinginan, atau teman-teman punya penilaian lain? Dan bagi sahabat blogger yang menyetujui filosofi ‘memohon doa bintang jatuh’ itu, kira-kira keinginan apa sih yang sahabat blogger ingin diungkapkan ketika peristiwa itu ada langsung dihadapan mata kita?

Jawab di comment ya… Riset mendalam dahulu nih hehehehe :D

Sabtu, 26 Mei 2012

Kisahku dengannya …

Aku sudah cukup lama berkenalan dengannya kurang lebih 4 bulan yang lalu. Dia gadis yang imut, cantik, dan manis. Walaupun aku hanya melihatnya di situs jejaring sosial bertanda huruf F saja, tapi aku cukup ‘intens’ dalam memandangi setiap foto-foto indahnya. Sebut saja Ikha, wanita yang kini tinggal di daerah di Kepulauan Riau yang juga pernah berdomisili di Serang, Banten. Muka imutnya membuatku tak bisa beranjak dari monitor didepan mataku dan membuat tangan kananku diam tak ingin mengganti ke link yang lain. Aku ingin sekali memilikinya, dan menjaga dia seperti aku menjaga pacarku sendiri.

Dan pada suatu saat, tiba-tiba ia menghubungiku. Alasannya simpel, karena ia tengah dilanda kegalauan yang berlebih. Tentu saja aku yang sejatinya adalah friendly-friend, hehehe (PD dikit bolehlah…), tidak bisa memutuskan telpon itu begitu saja. Aku harus bisa jadi pendengar yang baik. Dan telpon itu kerap berlanjut, hingga esok, esok, dan esoknya lagi. Sampai aku yang merasakan sendiri, betapa tulusnya ia terhadap orang yang dicintainya. Khayalan pun datang di benakku, bagaimana kalau aku yang menjadi posisi si ‘lelaki’ itu? Hmm… Gak ragu-ragu lagi deh.

Adakalanya ku menginginkan gadis yang setia, baik, dan penuh pengertian. Jadi saat itu aku mencoba untuk membuka diri untuknya…

Aku ingat salah satu percakapan di telpon itu ia berkata, “In… aku ingin banget ada sesosok lelaki yang bener-bener setia, jujur, dan mau menjadi pacar aku. Aku akan menyayangi dia banget, sampai hatiku yang paling dalam,” ujarnya dalam telpon itu. Sontak perkataan itu membuatku tersentuh. Apalagi yang ku telpon itu adalah gadis yang ingin aku sayang dan aku jadiin pacar. Bahasa inggrisnya adalah “No way to stop”. Tak ada jalan untuk berhenti. Ketika kamu mantap dengan pilihanmu, maka jangan khianati. Dan sebagai tahap awal, aku mencoba memberanikan diriku untuk menyatakan perasaan suka ku padanya. Hmm… So sweet dikit lah hehehehe :D

Akhirnya kami berdua jadian, walaupun hanya dengan ucapan maya. Tapi tenang, ada rencana untuk kami bertemu, dan aku akan menyatakan perasaan itu langsung dihadapnya (ciee ciee pritt pritt :p). Aku ingat saat itu aku tengah menonton siaran ulang Indonesian Idol sambil memasak mie instan kuah di dapur samping kamarku. Mulai dari situlah, setiap hari tidak pernah putus kontak-kontakan dari kami, mulai dari SMS, telpon, hingga chat Facebook. Kata-kata cinta makin menyeruak dan tak ada yang bisa mengentikan kami, sampai-sampai aku mengorbankan baterai HP Blackberryku ini kian nge-drop oleh karena sering di-charge sambil menelepon. Apa sih yang gak ku perbuat untuknya?

Seperti sudah ku lansir sebelumnya, memang ada rencana dari kami untuk saling bertemu. Dan dalam komitmen kami, tidak ada kebohongan, dan selalu inginmenjaga perasaan satu sama lain. Walaupun longdis ga jadi masalah, wong katanya Ikha ingin menetap di Serang, Banten, beberapa bulan kedepan kok. Jadi tidak ada yang perlu dikendalai. Aku yakin ini lancar, dan insyaallah sampai pada jenjang pelaminan diantara kami. Amminn

Namun perlahan keyakinan itu sedikit demi sedikit mulai patah akibat dari ‘discommitment’ yang tengah melanda kami. Beberapa hari sebelum pertemuan kami, aku kebut semua pekerjaan kampusku (PR), projek editing saudaraku yang seharusnya jadi dua minggu dari awal kukerjakan ku kebut semuanya. Belum lagi tugas meulis cerpen dari Kak Novi, senior aku di Pers Mahasiswa Orientasi. Semuanya hampir tidak mengenal istilah lelah dan harus dikerjakan dengan satu rumus SKS (Sistem Kebut Semalam). Aku ingin ketika ku bertemu dengannya untuk tujuh hari kedepan agar tidak ada yang menggangu pikiranku, baik itu PR kampus atau kegiatan yang menghalangi aktivitasku.

Pada beberapa hari sebelum pertemuan kami, dia (Ikha) kerap kali menghindar saat ku mencoba menelepon dan sms balik dirinya. Jawabnya seperti setengah hati, dan nggak ada upaya follow-up setelah ku putuskan sambungan telepon dan sms itu. Aku tanya kenapa, apa aku yang salah… karena hampir tidak pernah menghubungi dia, karena kesibukanku? Atau apakah? Tanyaku makin mengundang ketika beberapa hari setelah itu ia tidak pernah lagi menghubungiku.

Dan saat jum’at malam itu, aku di sms oleh dirinya, dan ia menyatakan bahwa ingin mengakhiri hubungan ini. Dengarku pecah, saat aku baca sms itu. Dia juga menambahkan alasan mengapa ia ingin memutuskan hubungan ini karena ia tengah menghadapi kanker dalam tubuh yang cukup ganas, dan ia tak mau aku terus memikirkannya. Aku tak melihat itu sesuatu yang buruk, karena aku akan tetap menerimanya. Tetapi caranya dia berbohong dan memilih untuk memutuskan sendiri, bener-bener membuat hatiku pecah menjadi berkeping-keping.

“Jadi ini alasan kamu kerapkali menghindar dari aku? Kalau kamu memang sudah ga mau commit lagi sama hubungan kita, terserah kamu sajalah!!!” kesalku padanya ketika ku sms balik sebagai tanda kekecewaan.

Sekarang batal sudah. Rencana sudah pecah menjadi berkeping-keping. Aku seakan ga percaya mengapa ini bisa terjadi. Aku ‘kebut’ semua pekerjaanku dan semua itu kulakukan sia-sia karena moment terindah yang dinanti harus pecah oleh karena ini. Dan hingga aku menulis tulisan ini di blog pribadiku, aku masih terasa sakit hati padanya. Maklum, karena insiden pemutusan sepihak ini adalah yang kedua kalinya. Yang pertama, kejadian serupa oleh karena cekcok kalimat diantara kami. Cukup sudah, aku ga mau dipermainkan.

Kesimpulannya adalah, cinta boleh buta. Tetapi kita perlu membuka mata lebar-lebar. Realita yang tanpa kita duga bisa terjadi. Sayangilah orang yang kamu sayangi, sebelum orang yang kamu sayangi itu berbalik menyayangi orang yang ia sayangi.

Jumat, 25 Mei 2012

Sharing itu penting, ternyata...



Aku mempersiapkan diriku untuk bertandang ke kampus tercintaku BSI Salemba 45 pada pukul setengah 7 malam. Walaupun agak sedikit terlambat dikarenakan oleh faktor mata memejam… ya kalian tahu lah hahaha. Tapi yang jelas, pertemuanku dengannya ini adalah murni silaturahmi, yang sekaligus bisa menambah ilmuku ketika ku terjun dalam dunia tulis menulis.

Aku dan temanku bertandang ke Sekretariat LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) di BSI Salemba 45 malam itu dan berbicara banyak hal. Yang paling mengesankan adalah ketika obrolan ini sampai pada tahap perbincangan yang menyedihkan. Angkatan kepengurusan gue dikeluarkan begitu aja !!!! Hmm…. Sontak Adang pun merespons perkataan gue ini. Dia bilang angkatan gue angkatan paling tragis dalam sejarah kepemimpinan organisasi pers mahasiswa. Cap cip cup… yang penting gue ga boleh nangis!!! Betul ngga? :D

Sampai pada jam 21.30 kami memilih untuk pindah tempat obrolan ke Seven Eleven sebelah kampus kami. Kami inisiatiflah keluar kampus sebelum didepak sama satpam kampus, maklumlah kampus tutup jam 21.45 hehehe. Karena gue juga baru menangin ‘tender’ video editing dari saudara gue, gue pun berinisiatif buat nraktir Adang makan-makan disana. Yah, ngitung-ngitung amal gue lah, sebelum akhirnya gue dapet hadiah Get Lucky Pop Mie berupa voucher pulsa Rp. 5000 XL. Waw… seneng banget gue.

Dalam obrolan itu kami berdiskusi tentang cara mem-blogging yang benar agar pageview kita bertambah dan dapat comment yang banyak. Disitu saya dapet ilmu banyak sekali, mulai dari cara agar blog kita dilihat orang banyak, dicomment, bahkan untuk urusan komersil sekalipun. “Iye dang, gue pengen banget bisa jadiin blog gue terkenal!!!”. Ternyata eh ternyata, kata kunci yang gue dapet dalam diskusi itu adalah, “Sering-seringlah berbagi, karena ketika lu berbagi, maka lu akan dibagi oleh blogger yang lainnya”. Tahap awal yang cukup memberi pengetahuan juga buat gue.

Yap. Ketika kawan bertanya akan hal yang ingin didiskusikan, maka sering-seringlah sharing. Dengan berbagi, ilmu pengetahuan akan bertambah menghampiri kita. Marilah berbagi pengalaman, dan berbagilah ilmu kepada sesama. Karena ketika kita membutuhkan ilmu tersebut, kita tidak perlu membayar lebih untuk mendapatkannya bukan?