Selasa, 06 November 2012

Perjalanan Berorganisasiku (lanjut lagi) …

Dear Blogger …



Assalammu’alaikum sahabat-sahabatku semua … Akhirnya setelah seminggu harus puasa blogging oleh karena hal yang harus membuatku seperti itu (halah), aku bisa kembali posting dan kembali ke kehidupanku yang seharusnya, yaitu blogging. Haha .. Tapi memang dibalik masa hiatusku selama beberapa hari ini aku merasa sudah menanggalkan banyak agenda, yang mana bisa kukatakan agenda itu sangat penting. Semua agenda yang harusnya aku datangi, kandas karena acaraku yang satu ini. Tapi mau gak mau harus kulakukan, karena ini menyangkut baik selama perjalanan panjangku di dunia ini.

Yap. Acara itu adalah ‘Pelantikan’. Pelantikan Calon Anggota Angkatan 21 UKM LPM Orientasi, Universitas Mercu Buana, yang baru selesai digelar pada senin subuh tadi. Tepat sekali. Acara pelantikan ini begitu ‘berbenturan’ dengan jadwal kampusku yang seharusnya sedang Ujian Tengah Semester, Sabtu dan Minggu kemarin. Bisa dibayangkan bukan? Aku harus mengikuti rangkaian acara pelantikan sekaligus mengikuti UTS di kelasku. Sadis … berani bener yaa si In ini .. :D

Sebenarnya sedari jum’at kemarin ada miss-komunikasi antara aku dengan seniorku perihal tanggal ideal pelantikan LPM Orientasi ini, yang seharusnya aku usulkan lebih baik digelar minggu depan saja (Sabtu, 10 November 2012). Tetapi karena ada beberapa hal, akhirnya keputusan berat adaan pelantikan ini harus digelar pada Sabtu lalu. Walhasil, aku harus siap-siap fisik, mental, sekaligus otak karena aku belum sempat belajar banyak saat menghadapi UTS kemarin.

Ah sudahlah … Biarkan waktu berlalu. Yang jelas aku sudah ‘berhasil’ menyelaraskan kedua-duanya. Aku berhasil mengikuti UTS dan berhasil pula mengikuti jalannya pelantikan hingga usai. Namun tetap saja, ada sejumlah agenda yang akhirnya harus aku tinggalkan demi kelancaran prosesiku dilantik di UKM yang bernaung di bidang Pers Mahasiswa ini.



Hari Sabtu, 3 November 2012

Pertama-tama, aku menyempatkan diriku untuk mengikuti UTS terlebih dahulu di kelasku. Dengan sangat terpaksa aku menggunakan telepon pintarku (smartphone) sebagai media untuk membocorkan jawaban dari buku. Aksi saling tukar blackberry messenger (BBM) dan whatsapp memang sudah lumrah terjadi di kelas yang kusebut sebagai kelas karyawan ini. Aku memanfaatkan peluang ini sebagai aksi mencari jawaban secara cepat karena sang pengawas ujian pun kurang jeli memantau apa yang kami perbuat selama itu. Hehehehe … tetapi ini cukup beralasan lho. Karena rata-rata teman-temanku di kelas tidak punya waktu untuk belajar dan sibuk di kantoran. Demikianpula dengan aku. Terlalu aktif di beragam kegiatan luar terkadang menjadi penghambatku untuk membaca buku. Hehe ..

Seusainya UTS, aku langsung bergegas ke Sekretariat UKM LPM Orientasi untuk menjalani serangkaian agenda pelantikan. Pertama-tama, aku dan temanku yang juga calon anggota diutus untuk pergi menuju tiga tempat yang menjadi ‘pos’ di acara pelantikan ini. Dwi Aryo Wibowo, begitulah nama dari sebutan temanku yang juga calon anggota itu tadi. Aku dan Bowo, langsung bergegas menaiki motor Revoku menuju ke lapangan Taman Ismail Marzuki, Kebon Sirih, Jakarta Pusat pada pukul 11.30 WIB.

Yang kedua kami menuju ke Taman Suropati, Menteng, Jakarta pada pukul 16.30 WIB kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi kawasan Monas pada malam harinya. Dalam ketiga pos itu, kami banyak disuguhkan penggemblengan baik fisik maupun mental dalam memahami makna tersembunyi yang ada di tiap pos itu.



Hari Minggu, 4 November 2012

Belum selesai sampai disitu, pagi harinya aku kembali bergegas ke kelas untuk mengikuti UTS di matakuliah yang kedua. Bedanya, jika kemarin sabtu aku pakai baju yang bersih, hari ini aku masuk ke kelas dengan baju yang sudah kucel dan kotor. Maklumlah gak mandi selama sehari, ditambah lagi banyaknya debu yang bertebaran sepanjang perjalanan. Hahaha …

Sekembalinya di kelas, aku dan Bowo ditugaskan untuk menjalani ‘sidang’ atas hasil ikutserta pos yang sudah aku lalui selama sehari itu. Lagi-lagi faktor mental harus yang super disini. Celaan dan cacimakian begitu sedap terdengar di telingaku sepanjang minggu malam. Baik itu dari kesalahan murniku hingga ajang pencarian kesalahan dari senior kepada juniornya. Yayaya … itulah salah satu resiko yang harus ditanggung para organisatoris untuk masuk ke dalam bagiannya. Apalagi UKM yang sedang aku lalui ini lebih mengutamakan faktor ‘militaris’ jika ingin masuk kedalamnya. Sebelum akhirnya kami berdua dilantik dan diterima menjadi anggota resmi Orientasi, aku dan Bowo sebenarnya sangat minim dalam waktu beristirahat. Kembali lagi seperti yang ku katakan. Faktor fisik juga harus kuat disini. Yah maklumlah, kesan ‘senioritas’ masih begitu kuat disini. Namun tetap tidak ada reaksi fisik yang begitu signifikan disini. Hanya disuruh ini itu dan bersiap-siaplah kalian menghadapi segala macam lemparan mental dari mereka. Huhuummm ……..

Seperti pernah ku lansir di posting pertama Berorganisasi, Peran Aktif dalam Mengasah Kemampuan. Berorganisasi itu bisa dikatakan cukup berat, apalagi ini dilakukan secara sukarela alias tanpa mengharap bayaran. Namun dengan begitu kita sebenarnya sedang diasah kemampuan kita, kredibilitas kita, kepemimpinan kita, dan pertanggungjawaban kita dalam berorganisasi. Kesimpulan sederhananya, jika saat kita tidak dibayar kita bisa memimpin sebuah organisasi dengan baik, tentunya kita bisa memimpin perusahaan yang lingkupnya sudah memberikanmu keuntungan yang tinggi dong? Sekarang, akupun juga sedang menghadap dilema akan manajemen waktu. Pembagian waktu antara organisasi dengan kuliah dan aktivitas lainnya sudah harus setara dan targetable.

sekarang aku adalah bagian dari mereka ... :D


Bagaimana dengan kalian, apakah punya hal yang tak terlupakan selama berorganisasi dulu?

Rabu, 31 Oktober 2012

Hiatus ...

Dear Blogger ...


Hari ini, aku mau quick post saja yaah ...




Sehubungan dengan adanya Mid-test (Ujian Tengah Semester-UTS) di kampusku beberapa hari kedepan, tugas-tugas kampus yaitu berupa membuat resume Metodologi Penelitian Survey dan harus membuat riset analisis data skala perbandingan program televisi untuk dikumpulkan saat hari-H UTS tiba, serta yang terakhir membuat Newsletter sebagai tugas Calon Anggota Persma Orientasi UMB.

Untuk tugas intern rumah, aku harus beberes kamar lagi dan tmencuci beberapa pakaian yang menyebabkan pandangan tidak sedap pada istanaku tercinta ini. Hmm ....

Aku akan mengerjakan tugas-tugas ini, yang kulanjutkan dengan kegiatan belajar di rumah. Karena aku trauma ... mendapat nilai jelek di semester lalu.. Hehe


Oleh karena itu, aku sebagai pemegang saham terbesar di blog Catatan Indrayana ini ingin meminta izin kepada sahabat blogger semua untuk tidak blogging dulu seengaknya sampai satu minggu kedepan.

Sebenarnya ingin sekali ku bisa posting lagi, BW lagi, diskusi bareng dan bercanda-candaan lagi sama sahabat blogger semua. Aku bakal merindukan saat-saat diskusi kita kemarin. 


Kang Asep dengan bubur ayamnya, kang Zach dengan kelucuannya, mas Rudy Arra dengan kecerdasannya, dan semuanya.
Ocha Rhoshandha sama Nina Riska Amalia juga yang sering ikut berdiskusi ... Mari kita berdiskusi lagi esok-esok hari dengan topik yang berbeda, namun tetap hangat dan menyenangkan.


Pamit dulu yaa teman-teman. Assalammu'alaikum .... ^_^


IMPORTANT NOTE  :  Berhubung mas Rudy Arra sudah mengumumkan ada wadah diskusi dalam postingan sebelum ini, mohon maaf banget kalau aku tidak bisa nimbrung untuk berargumen dulu.
Tetapi, bagi yang ingin ikut berdiskusi dipersilakan untuk bergabung. Maaf sekali kalau dalam diskusinya aku gak nyediain kue kering, bolu potong, es teh manis sama bubur ayam yaa
#loh :D

Senin, 29 Oktober 2012

Inspiraturis … (Part 1) : Kuda Lumping Singoludro

Dear Blogger …



Assalammualaikum … Lagi-lagi si penulis kecil Indrayana menuliskan sebuah artikel kembali untuk sobat blogger. Lewat tiga hari saja rasanya dalam hati … seperti gimana gitu. Hehe … Kali ini aku akan mengulas sedikit cerita pelesiran singkatku mengenai sebuah tempat wisata yang tak kalah dengan yang lainnya. Sarat edukasi, namun penuh akan hal yang menyenangkan. Dimanakah itu? Hehe .. nanti dulu bung/mbak. Juga, pada point utama kali ini aku akan sedikit mengulik sebuah inspirasi yang datang dari grup yang sehari-harinya mencari nafkah demi menghidupi masing-masing dari mereka. Penasaran apa? Yuk kita simak yang berikut ini …

Okei. Langsung pada point intermezzo terlebih dahulu. Ketika sobat blogger lelah dalam beraktivitas dan merencanakan akan pergi ke suatu tempat yang menyenangkan dan menyegarkan pikiran sobat blogger semua, ada banyak tempat referensi yang tersedia untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Situs Museum Purbakala Sangiran yang pernah aku posting beberapa waktu lalu, dan yang kedua … inilah dia. Wisata Kota Tua. Jeng jeng jeennggg… *bunyikeyboard* :D





Bagi yang sudah cukup lama bermukim di DKI Jakarta pasti sudah mengenal lokasi wisata yang satu ini. Yap … tidak lain dan tidak bukan adalah Museum Fatahillah. Eitt … tunggu dulu. Tidak perlu berkecil hati mendengar kata ‘museum’ yang satu ini yaa. Meskipun namanya museum, namun tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi. Karena tak hanya berisi tempat bersejarah peninggalan jaman Belanda saja yang ada disini. Bila kita melihat seisi lapangan di sekitar Fatahillah ini, kita akan menemukan banyak jasa penyewaan Sepeda Onthel yang bisa kita sewakan, atraksi unik dari para komunitas atau grup, museum seni rupa, Pelabuhan Sunda Kelapa, hingga jajanan souvenir unik khas Jakarta.

Bicara tentang ongkos marongkos, pergi berwisata ke tempat yang sudah lama diresmikan oleh Mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin ini terbilang cukup terjangkau. Untuk berkeliling si sekitar lapangan dan sekadar foto-foto kita bisa dengan bebas melakukannya. Untuk masuk ke Museum Fatahillah kita cukup membayar Rp. 3000 per orang untuk tanda registrasi. Bila kita ingin merasakan uniknya naik sepeda zaman Batavia kita hanya mengambil kocek sekitar Rp. 10.000 per sepeda untuk satu jamnya. Terjangkau, bukan?



Sugeng, ketua Grup Komunitas di sebelah kiri
Kuda Lumping Singoludro dan aktivitasnya

Yup. Setelah berlebar panjang bicara mengenai Kota Tua tadi, kini saatnya mengulik tentang grup yang bisa dibilang sudah lama bermain di tempat wisata ini. Ada yang menarik bila kita mengunjungi kawasan ini setiap hari Jum’at, Sabtu dan Minggu. Siapakah mereka? Mereka adalah sekelompok ‘pengamen’ yang biasa mangkal di hari-hari weekend ini. Hmm … tunggu dulu. Bukan ‘pengamen’ seperti yang ada di sekitaran umum itu yaa.

Melainkan mereka adalah Grup Kuda Lumping Singoludro. Grup yang didirikan sejak tahun 1969 itu banyak menyuguhkan beragam atraksi atau debut yang sering ditampilkan di sini, diantaranya adalah Kuda Lumping dan Makan Beling. Kuda lumping itu sendiri diperankan oleh anak kecil berusia lima tahun, dibungkus pakai kain kaffan dengan panjang sekitar 50 meter dikafer dengan kain putih lagi. Selain itu, atraksi lainnya ada Manusia Makan Api, Manusia Akrobat Topang Harimau, Manusia masuk Tong dengan kuda lumping makan beling. Kurang lebih seperti ini atraksinya …


pembungkusan anak kecil berusia lima tahun dengan kain kaffan  -  Foto Catatan Indrayana

Foto Catatan Indrayana

Foto Catatan Indrayana

saat atraksi  -  Foto Catatan Indrayana


saat bersiap makan api.. Foto Catatan Indrayana

saat penyemburan api ... Hrrr. siapa yang mau coba? Haha ... Foto Catatan Indrayana
NOTE : DON'T TRY that at HOME !!!!

di zoom lebih dekat ... Foto Catatan Indrayana
NOTE : DON'T TRY that at HOME !!!!

Mereka tak hanya beraksi secara umum di hari minggu akhir saja lho sobat blogger, tetapi mereka memprioritaskan target pemenuhan undangan atau perkawinan, peresmian gedung, hajatan, peresmian kantor, dan lain-lain. Selebihnya, mereka berkeliling kampung untuk menunjukkan aksi kebolehan mereka. Jadi, setiap hari mereka tidak pernah diam di rumah saja.

Juga, prioriti utama dari grup yang dipegang oleh pria asal Surabaya, Jawa Timur ini adalah bagaimana mereka menarik mata para pengunjung dan banyaknya saweran yang mereka terima. “Kami murni mencari nafkah dengan cara ini, mas. Sebisa mungkin kami tunjukkan atraksi yang sekiranya bisa menghibur masyarakat,” ujar Sugeng, yang juga dimaksud dalam sapaan majemuk Pria asal Surabaya, Jawa Timur tadi.

Sugeng menambahkan harapan utama dijalankannya kegiatan seperti ini agar budaya Kuda Lumping bisa terus maju, dan ada perhatian dari Pemerintah. “Kita memang kerjanya seperti ini. Menghibur dan menyenangkan orang,” tambah ketua grup Kuda Lumping Singoludro itu.



Bagaimana kawan. Tertarikkah sobat melihat atraksinya?

Jumat, 26 Oktober 2012

Teguran dari Mereka … (Part 2) : Menyikapi Arti Bahasa Tulisan

Dear Blogger …



Assalammualaikum .. Di malam takbiran yang sejuk ini indah terasa bila kita ikut mengumandangkan takbir menyambut Idul Adha yaa. Yap … Gema takbir malam ini tampak ramai mewarnai hiruk suara disekeliling kita. Malam ini, tepat beberapa jam menuju puncak Hari Raya Idul Adha, aku coba untuk memposting tulisan lagi nih. Nah, rencananya aku mau memposting tentang percintaan (hmmph … cinta lagi cinta lagi). Hehehe kali ini dipending dulu. Tapi aku mau berdiskusi mengenai sebuah fenomena di kalangan kita, blogger, yang cukup menjadi dilema ketika masalah ini bertambah besar dan dikhawatirkan menciprati kalangan lain yang sejatinya tak tersentuh oleh gigitan masalah itu. Yap … Bahasa Tulisan.

Tulisan ini merupakan tema sambungan dari posting pertama Teguran dari Mereka ...

Beberapa saat sebelum posting ini ada, aku sempatkan diriku untuk blogwalking dulu. Aku menemukan postingan baru dari Ocha Rhoshandha, Zachronisampurno, dan yang terakhir … Vpie Mahadhifa. Nah… yang terakhir inilah yang membuat kedua bola mataku terbelalak memantengi layar bening laptopku akan isi dari postingnya kali ini. Hmmph … bagi yang sudah melihat apa isi postingnya pasti sudah tahu lah yaa apa akar permasalahannya. Tetapi jika masalah ini sudah terungkit kedua kali, bagaimana? Haruskah kita menunggu masalah itu blowing untuk yang ketiga, keempat, sampai yang kelima kalinya? Tidak kan… ? Oleh karena itu … aku coba untuk berdiskusi mengenai hal ini karena aku nilai ini cukup serius. Dampaknya, bisa jadi kesenjangan pertemanan antar blogger, hingga yang paling parah … Permusuhan!!! Nauzubillahhi min Dzalik …

Yup. Ada diferensi pemaknaan diksi yang menjadi akar masalah disitu. Bagi beberapa orang, hal itu mungkin menjadi penilaian wajar atau bahkan sebuah kebiasaan. Tetapi untuk sebagian orang lagi, hal itu bisa jadi bahkan sangat sensitif. Betul gak sobat blogger?

Gak percaya? Aku coba referensikan pengalaman pribadiku yang kasusnya hampir menyerupai perseturuan antara Vpie Mahadhifa dengan Miz Tia di postingan terkininya yaa. Bukan dalam kehidupan blogger kawan, tetapi dalam status Facebook. Immanuel Laurens Morenzzo, demikianlah nama yang nanti akan aku samarkan menjadi kata ganti orang “dia” nanti.

Ceritanya begini. Ada salah satu status yang dibuat oleh si dia, beberapa waktu lalu. Kira-kira statusnya kayak menggalaui sesuatu gitu. Nah, karena dulu aku juga merasa dekat dengan dia, aku pun coba menimbrungkan diri komentar di status seorang mantan pengajar Taman Ceria Negeriku itu namun dengan maksud bercanda. Dan sobat blogger tahu apa yang terjadi selanjutnya??? Jawaban dari komentar balasan itu justru malah menghina aku dengan perkataan yang tidak sedap!! Kira-kira kurang lebih seperti ini lah :


Hei kau. Gak usah ikut campur urusan saya yaa. Pernah sekolah kan jangan kayak ***** (maaf sensor)


Aku yang melihat balasan komentar itu seketika langsung “JLEBB”. Aduuhhh … nusuknya tepat banget. Sakiiitttt …… padahal maksudku hanya bercanda, yaa semacam kalimat galau lah yaa. Maka seterusnya dari yang dulu kami sempat bersahabat sekarang saling menjauh karena perkataan demi perkataan dia yang aku nilai ‘kurang bersahabat lagi’.

Ada hikmah yang aku petik disini, dari kasusku dulu dengannya dan kasus perseturuan Dhifa dengan seorang blogger itu. Apa itu? Yap. Menyikapi Arti Bahasa Tulisan.

Sebuah tulisan, dalam faktanya hanya dapat diartikan sebagai satu lajur kesepahaman yang general sebenarnya. Kalau menilik pengalamanku yang tadi, aku menilai ada perbedaan tanggapan mengenai makna dari tulisanku itu. Dari hematku aku komentar sebagai tanda bercanda, dalam hematnya dia bisa jadi menganggap itu sebuah ejekan. Naahhh …. Sama kasusnya dengan Mbak Mahadhifa ini. Mungkin menurut ‘orang yang kini sedang berseteru dengannya’ ini, pemanggilan akrab nama tertentu masih dianggap wajar bahkan mungkin kebiasaan. Heitt tapi ingat … ada juga yang beranggapan itu menyinggung lho. Iya kan … ?

Jelas sekali sebenarnya ini ‘murni kesalahpahaman’. Oleh karena itu aku mengajak seluruh sahabat blogger apabila komentar yaa gunakan bahasa yang wajar-wajar sajalah, yang sopan secara umum dan dapat diterima masyarakat beretika. Pasti mengerti lah maksud harfiah yang aku katakan itu. Kalau kedua belah pihak masing-masing dapat menerima bahasa yang enak, yakinlah takkan ada ‘teguran dari mereka’ lagi. Setuju gak semua … ???

www.thecolor.com


Nah untuk sahabat bloggerku yang sangat aku nanti kedatangannya untuk komentar ini, Mbak Mahadhifa … maafkanlah dia. Maafkanlah orang-orang yang mungkin kamu nilai itu sebagai perendahan terhadap dirimu. Kita pun harus mengerti, mungkin itu sebuah kebiasaan dari mereka untuk menyambut teman barunya. Hmm … Bukan berarti aku membela dia juga lho. Tidak ada yang aku bela, karena aku yakin antara kamu dan dia sebenarnya tidak salah. Ini murni kesalahpahaman saja.

Dan untuk Miz Tia, mungkin coba untuk lebih bijaksana lagi menanggapi keadaan. Karena blogger itu sangat heterogan mbak. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus memahami perbedaan diantara kita dan jangan sampai perselisihan menjadi nuansa tidak sedap bagi blogger yang lain. Takutnya ada yang kecipratan pemahaman, akhirnya jadilah hal yang tidak diinginkan. Mungkin begitu saja diskusi hari ini. Semoga tali silaturahmi blogger bisa tetap baik dan jangan ada lagi perselisihan apapun alasannya.



Ohya, aku secara pribadi juga ingin mengucapkan :

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1433 HIJRIYAH sahabat blogger semua …

Selasa, 23 Oktober 2012

Berorganisasi, Peran Aktif dalam Mengasah Kemampuan …

Dear Blogger …


Aku dan teman-temanku dalam organisasi Lembaga Pers Mahasiswa BSI  -  Lokasi : Istora Senayan, Jakarta


Assalammualaikum wr. Wb… Sampurasun rampes. Alhamdulillah wasyukurillah, aku bisa kembali menitikkan jari-jari di depan laptop malam ini. Ada yang sedikit berbeda dari kalimat barusan? Yap. Laptop. Aku sudah menanggalkan menulis blog ataupun kegiatan di komputer agar melakukannya di laptop baruku. Jiahaha … laptop baruuu :D . Firstly, aku agak susah mengetikkan tulisan untuk aku posting di blog (karena udah terbiasa di keyboard komputer). Namun aku coba membiasakan diri dimulai dari sekarang. Pembiasaan itu harus, agar nanti tidak semakin lama tidak bisa. Betul?

Saperto Biaso. Intermezzo daholo yoyoo. Haha .. maksudnya intermezzo lagi (tahulah kebiasaan si indrayana ini) :D . Permintaan maaf sekali lagi karena aku belakangan ini jarang BW oleh karena urusan organisasi yang membelet beberapa hari ini. Maaf maaf banget yaa kawan. Tapi tetep, aku usahakan sepenuhnya untuk BW karena BW itu udah seperti ‘agenda wajib’ buat aku pribadi. Tiga hari saja tanpa BW itu rasanya gimana gituu. Hahaha …

Nah, terkait dengan itu aku mau sharing sedikit nih mengenai pentingnya berorganisasi. Okei, bicara tentang organisasi pasti tak lepas dari keaktifan, kepemimpinan, dan ketanggungjawaban. Betul? Yap. Berorganisasi bisa jadi penting dalam masa (muda) kita mencari ilmu dan mempererat link kepada teman yang tak hanya dari satu lingkup kita saja. Bahkan tidak hanya itu, kita bisa menilai seberapa berat porsi kepemimpinan kita. Karena siapapun yang bernaung dalam organisasi pasti akan dilantik jadi pemimipin juga. Bisa jadi, pemimpin bagi bawahannya atau juga pemimpin bagi anggota baru yang hadir kelak nanti.

Okee. Sedikit cerita dari aku. Aku menerjunkan diri untuk berorganisasi sebenarnya sudah sejak tahun 2005. Saat itu aku bergabung sebagai anggota di Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRA) di sekolah SMA ku. Aku mulai diangkat jadi senior sekitar pertengahan tahun 2006. Kemudian setelah lulus dan aku masuk ke jenjang perkuliahan aku bergabung dalam organisasi yang tergerak sebagai Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) kampus Bina Sarana Informatika pada tahun 2009.

Selama dua tahun aku berkiprah di lembaga pers yang mencetak produk bernama Majalah Inspirasi tersebut, banyak sekali suka maupun duka yang aku temui … dari awal masuk jadi calon anggota hingga di akhir jabatanku sebagai Pemimpin Redaksi. Awal mula aku masuk ke sini … aku langsung ditugaskan untuk menulis sebuah artikel tentang Teknologi Komunikasi. Lalu sesaat sebelum pelantikan, aku ditugaskan untuk mencari sebuah berita, pada saat perjalanan menuju lokasi pelantikanku di Karawang, Jawa Barat, tepatnya di dalam kereta api jurusan Senen – Bekasi yang kami tumpangi.

Jadi anggota baru dalam berorganisasi itu rasanya seperti … diawasin tiga ekor singa di dalam hutan belantara!! Hahaha … :D . Dan itu ku rasakan juga sekarang aku yang masih menjadi calon anggota di LPM Pers Orientasi Universitas Mercu Buana, Kembangan, Jakarta Barat. Hemmhh … aku digembleng habis disini. Mentalitas… dan intelektualitasku terus diasah. Juga sama halnya saat aku masih di LPM Inspirasi BSI beberapa tahun lalu. Kesalahan sedikit saja dalam penyusunan publishing berita, aku bisa dipecer habis-habisan sama senior maupun alumni yang melihat hasil karyaku. Huupph…

saat bingung memutuskan keputusan dalam dilema orgnisasi.
Haha :D
Lokasi : 7-Eleven Salemba, Jakarta Pusat
Itu baru jadi anggota biasa, teman. Belum nanti kalau ketika kita diangkat jadi pengurus organisasi. Wuhh … ceceran sana-sini harus jadi makanan sehari-hari kamu deh kalau kamu gak menunjukkan kemampuan kepemimpinanmu yang terbaik. Aku pun pernah merasakan ketika aku dilantik jadi Redaktur Pelaksana sesaat sebelum aku jadi Pemimpin Redaksi. Hampir setiap minggunya aku terus dipertanyakan ‘report’ dari progress kerjaku. Berat rasanya … tapi yaa inilah yang namanya tanggungjawab. Bidikan memiliki rasa tanggung jawab memang harus ditumbuhkan sejak dini kan sobat blogger? Nah, mungkin di masa inilah aku coba untuk mengaplikasikannya. Karena disini, aku dirasa sudah menjadi bagian dari media. Meskipun bukan media komersil tetapi media yang pernah aku gandrungi ini seperti layaknya ‘miniatur’ dunia kerja yang akan aku sambangi nanti. Insya Allah …

Sebagai senior, kita juga harus bisa membidik anak-anak baru agar mereka bisa memimpin organisasi dengan sebaik-baiknya. Asahan kemampuan juga diperlukan agar mereka tak merasa sia-sia telah bergabung di organisasi yang mereka tujui. Banyak hal yang membuat anggota baru terkadang memilih untuk ‘lepas’ dari organisasi. Diantaranya adalah ketidakcocokan kemampuan, kemauan, atmosfir sumber daya manusia yang kurang sehat, hingga perasaan pesimistis. Itulah yang terjadi padaku ketika waktu angkatan aku menjabat sebagai senior di organisasi LPM Inspiras BSI ini, tiga dari tujuh (termasuk aku), adalah yang bertahan sampai alumni. Empat lainnya, angkat tangan. Dinamikanya, ada dua dari yang aku sebutkan tadi. Sehingga komitmensi dari keempat temanku yang lain itu sempat dipertanyakan sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk keluar sendiri dari organisasi ini.

Berat? Memang harus diakui berorganisasi itu dikatakan cukup berat, apalagi ini dilakukan secara sukarela alias tanpa mengharap bayaran. Namun dengan begitu kita sebenarnya sedang diasah kemampuan kita, kredibilitas kita, kepemimpinan kita, dan pertanggungjawaban kita dalam berorganisasi. Kesimpulan sederhananya, jika saat kita tidak dibayar kita bisa memimpin sebuah organisasi dengan baik, tentunya kita bisa memimpin perusahaan yang lingkupnya sudah memberikanmu keuntungan yang tinggi dong? Misalnya, diangkat jadi redaktur pelaksana di Harian Kompas, misalkan … *Amiinnn*. Dengan bekal kepemimpinan kita semasa berorganisasi dulu kita ‘tidak kaget’ lagi jika harus memimpin bawahan-bawahan kita. Betul gak? Nah … itulah pentingnya berorganisasi..


Menambah teman juga jadi alasan logis mengapa kita perlu masuk kedalam minat organisasi yang kita inginkan. Meskipun bukan pada tujuan utamanya, tetapi dengan membiasakan diri berorganisasi lama kelamaan rasa itu juga akn tumbuh.

Bagi yang suka olahraga bisa masuk jadi anggota basket misalnya. Musik, yaa … masuk unit kegiatan permusikan. Minat di kepemimpinan? Masuklah senat mahasiswa atau OSIS di sekolah/kampus kalian. Jika kita masih pelajar atau mahasiswa sambangilah ekstrakurikuler atau unit kegiatan mahasiswa yang kalian minati. Dalam berorganisasi, kalian akan mengerti caranya memimpin organisasi, mempelajari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi, yang juga berupa tatanan undang-undang bagi si organisasi itu, menambah link, menambah ilmu, dan juga menambah pengalaman. Kalau aku bernaung di Lembaga Pers Mahasiswa (hingga sekarang), aku sudah mencetak beberapa produk fisik yang nantinya Insya Allah bisa jadi referensiku kedepan saatku melamar kerja di media jurnalistik. Ammiinnn …

produk majalah inspirasi  -  dibawah manajemen kepemimpinan aku dan kawan-kawanku


Diluar organisasi kampus juga diperkenankan loh sobat blogger. Juliana Priscilla Dewi, anggota LPM Inspirasi yang dilantik dua tahun setelah aku ini banyak sekali aktif dalam dunia keorganisasian, salah satunya aktif di kegiatan pelestarian alam di bantaran sungai Ciliwung, Condet, Jakarta Timur. Aku pun ingin masuk kesana dan menjadi anggota, setelah yang ini aku sudah menjadi organisatoris di sekolah tebuka Taman Ceria Negeriku (Tomang) dan Komunitas Rumah Indonesia (Grogol). Karena yang kurasa, belumlah cukup jika aku hanya bergabung di satu organisasi saja. Apa yang aku minati … akan aku sambangi. Karena aku sudah tahu … apa pentingnya berorganisasi.


Pandai berorganisasi juga membuatmu pandai dalam memanajemen waktu lho. Karena di setiap waktunya kamu akan dituntut untuk berada di suatu tempat di jam yang terkadang tak kamu duga. Jadi.... bagi kamu yang masih aktif di urusan akademik, tertarikkah kamu dengan tantangan berorganisasi itu???

Rabu, 17 Oktober 2012

Teguran dari Mereka ...

sumber  :   www.cartoonstock.com
Dear Blogger …


Assalammu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh… Sampurasun Rampes. Yap. Kembali lagi di catatan indrayana, dengan jurnal pribadinya yang (insya Allah) dapat menginspirasi sahabat blogger semua. Hehehe … Amminn. Belum akan berbeda dari posting sebelumnya ‘Sebuah Ekspektasi’, posting kali ini sebenarnya lebih kepada curhatan pribadi. Hehehe … Ya gak apa-apa lah yaa… Mungkin memang hasratku lagi ingin menuangkan ini saja..

Intermezzo :  Sebelumnya aku mohon maaf kepada sahabat blogger semua karena belakangan ini aku jarang BW. Yap… aku jarang BW yah? Maaf yaa … maaf…. Kesalahan bukan pada layar laptop anda #loh? Haha. Tetapi memang beberapa hari ini aku sedang dihadapkan pada hal yang tak bisa kuhindari. Salah satunya adalah hadapan interview dan psikotes yang belakangan muncul panggilan satu demi satu dalam rentetan hari yang hampir bersamaan. Namun demikian kendati, aku akan tetap berusaha untuk BW di setiap menitnya. Mumpung masih diam dirumah. Hehee…

Masih pada pautan tema pekerjaan, aku kini sedang intens banget sama yang namanya mencari kerja. Hampir banyak perusahaan berwadah outsourcing yang aku hampiri, salah satunya di bilangan Harmoni, Jakarta Pusat; Bintaro, Tangerang; dan baru-baru ini aku menghadapi tes yang aku nilai cukup memusingkanku. Perusahaan outsourcing PT. PKSS dua hari belakangan ini. Ya … aku sangat berkomitmen tinggi agar bisa bekerja dan dapat memenuhi ekspektasiku hingga dalam waktu jangka panjang.

Sedikit banyak ada kisah yang kurang mengenakkan saat aku dan kedua temanku datang menyambangi gedung yang diklaim milik Bank Rakyat Indonesia itu. Yap. Gedung yang beralamatkan di sekitar kawasan Warung Buncit, Mampang, Jakarta Selatan itu sejatinya akan merekrut para calon karyawan untuk dikontrak dan ditempatkan di berbagai cabang di Jabodetabek. Jika aku ditanya demikian… “Mas, apakah mas siap ditempatkan di mana aja?”, dengan lantang aku akan menjawab “Siap, Buu…”. Karena memang sudah positioningnya seperti itu. Jadi, jika kami lulus dalam tes ini, kami harus siap dalam hal apapun, termasuk dalam hal jarak itu sendiri.

Haha. Tapi sayang sekali pemirsa … pertanyaannya bukan seperti itu.



Kemarin, tepatnya satu hari sebelum aku posting untuk hari ini, aku dan kedua temanku bersiap gegas menuju lokasi perkara kejadian TKP dan siap diinterview. Irah Rohati, berusia 29 tahun dan Umi Sangadah, berusia 22 tahun (sama sepertiku), adalah dua orang teman yang aku sebutkan tadi. Sebelum kami bersiap gegas sebenarnya aku secara fisik dan penampilan belum siap secara total. Pada pukul 9:00 pagi aku dibangunkan secara paksa oleh temanku, yang datang kerumahku dan menggebrak pintu kamarku secara sadis. “Denn … Denniissss!!!!! Banguuunnn …. ”

Woow… si Irah datang menggedor pintu kamarku dan membuka secara paksa sehingga cahaya matahari tampak lancar menyikaukan diri di depan kedua bola mataku. Mmmhhh … udah jiwa belum nyatu, tu orang teriak-teriak kayak kagak tahu kalau aku sebenernya baru aja bangun tidur.


“mmmhhh…. Paan sih Ra? Aaarrghh…” dumelku padanya saat dia membuka paksa pintu kamarku.
“Ayo kita jalan. Yah lu masih bangun tidur…” jawab Ira.
“Bentar dulu!! Elu teriak-teriak dah kayak orang kesurupan aja lu dah…” dumelku lagi sambil melambaikan tangan kekanan guna mengusir dia secara halus keluar kamar karena aku akan bergegas untuk mandi.


Dan ternyata … setelah aku ricek pada handphoneku, dia sudah sms sekitar jam setengah 8 an tadi!!! Yasallam … ini nada deringnya apa kurang keras yak? Ah yasudahlah… Bergegas aku mandi, pakai pakaian (yang rapih), dan siapkan CV untuk aku ikut melamar nanti.

Berangkatlah kami ke daerah Mampang. Seperti biasa karena baru pertama kali insiden umum pasti sering kami temui. Apa itu? Nyasar. Haha …

http://www.panoramio.com
Nah, point utamanya ada disini. Rupa-rupanya, sangking aku terburu-buru tadi, aku sampai salah mengenakan pakaian dalam dan salah pula menggunakan jenis sepatu. Udah gitu, aku pakai kemeja yang belum sempat aku seterika!! Adadaddaaahhh ….. ampun-ampun Ya Gusti. Next time aku akan memakai pakaian yang lebih tertata rapi lagi deh! Hehehe. Dan ternyata benar adanya, aku dimarahi dua kali samapi di lokasi kejadian. Yang pertama, aku dimarahi karena aku menggunakan sepatu cat, bukan sepatu pantofel. Yang kedua, aku memakai pakaian dalam berwarna, sehingga kerahnya terlihat dan tidak menutup. Hmmph … lengkap sudah omelanku untuk hari kemarin.



Mas… tolong lain kali pakai sepatu ket dan kerahnya ditutup yah kalau mau pakai dalaman berwarna” cekit salah satu orang HRD di PT. PKSS itu kepadaku. Dan aku hanya berkata ,

Iya bu. Terimakasih atas masukannya.” Tanpa berbantah hati aku ucapkan apa yang seharusnya saja.


Itu saja sih ingatan terburukku di hari pertama interview dengan user di PKSS. Tapi tanpa terduga sobat blogger, dari sekian banyak yang melamar disana, aku salah satunya yang bisa melaju ke tahap Psikotes!! Dua temanku yang lain, Umi dan Ira, sama-sama ditolak oleh pihak PKSS. Ya Allah Gusti… terimakasih atas rahmat-Mu. Aku diberi kesempatan kedua dalam menjalani serangkaian tes masuk calon karyawan ini. Aku pribadi bahkan kurang mengerti mengapa dari aku bertiga hanya aku yang diterima melangkah ke tahap Psikotes sedangkan mereka tidak? Apa mungkin waktu presentasi perkenalan pribadi kepada user itu yah? Karena apa? Aku sudah dua kali kena teguran perihal masalah penampilan. Ah sudahlah … biar Gusti Tuhan yang mengatur semua ini. Aku jelas harus bersyukur banget atas keadaan ini. Awalnya sempat pesimistik, namun kemudian aku jadi optimistik kembali.

Dan oleh karena itu pula, aku bersedia mengganti penampilanku secara utuh dan keseluruhan, selayaknya seperti ini …



Hahaha. Masih muda kan *huu*? :D . Okelah cukup sekian curhatanku kali ini. 


Kesimpulan :  Selalu berpakaianlah rapi saat hendak melamar pekerjaan. Baik itu interview, atau bertemu dengan HRD. Karena user tidak hanya akan melihat skill kamu, tetapi mereka juga memantau pakaianmu. Pakaian cukup berdampak pada kesukesanmu mendapatkan pekerjaan.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           

Artinya begini. Setiap perusahaan sebenarnya juga menentukan regulasi etika berpakaian yang berbeda-beda. Namun tetap pada prinsipnya sama. Tampillah percaya diri dan tetap memukau didepan banyak orang..  ^ ^



Semoga aku bisa meraih pekerjaanku. Doakan yaa sobat blogger semua. Ammiinnn ....

Minggu, 14 Oktober 2012

Sebuah Ekspektasi …

http://ourpax.com
Assalammualaikum…. Sampurasun Rampes. Belakangan jadi terus-terusan ngikutin kang Cilembu Thea nih gaya salamannya. Hehehehe. Tengah malam ini rasanya dalam hati ingin sekali untuk tiduurrr, tapi takut lupa kalau ditunda besok mosting lagi. Hadeuuhhh … maklumlah penyakit lupa. Haha … Kali ini, aku mau cerita sedikit mengenai arti sebuah skala prioritas dan keinginan terbesar dalam hidup seorang manusia. Okesip …

Yap. Tidak lain dan tidak bukan sebutan dari ’diksi’ itu adalah pengutamaan atau ‘Ekspektasi’. Seperti kita tahu, kita selama hidup di dunia ini pasti memiliki satu prioritas utama yang harus bisa kita capai dikemudian hari. Tiap pribadi hidup pasti memiliki ekspektasi yang berbeda. Ada yang dalam hidupnya memiliki ekspektasi dalam menguasai bidang Sains atau Elektronik, ada yang hidupnya memiliki ekspektasi menjadi pemimpin di salah satu lingkungan, dan banyak lagi. Semua itu tergantung di kita. Akan ke arah mana kita hidup nanti… ?

Hoke. Lepas dari intermezzo mari langsung saja kita meluncat ke pokok postingan. Mari tinggalkan masalah kegalauanku (pada posting sebelumnya) dan kembali menjalani hari seperti biasanya. Kalau kata Ocha Rhoshandha kemarin di komentarnya, galau terus gak ada habisnya. Hmmm ……. Ya sudahlah. Jika kamu menilai demikian.


Ekspektasi sebuah Pekerjaan …

http://koran-jakarta.com
Aku sudah cukup banyak mendengar dari beberapa narasumber yang sejatinya mereka adalah sahabat-sahabatku semua. Kini, hampir 90 persen seluruhnya teman-teman dekatku sudah bisa menikmati masa karyawannya (hingga sekarang) dan merasakan serunya memiliki gaji yang kemudian ekspektasi kedepannya bisa saling berbeda pandangan. Tetapi point utamanya disini adalah, bagaimanakah ekspektasimu terhadap pekerjaan yang kau dapatkan saat ini? Apakah sudah sesuai dengan keinginanmu? Ataukah kau hanya sekedar untuk mencari waktu atau kau punya ekspektasi berbeda? Semisal, ingin menjadi karyawan tetap atau ingin mencari pekerjaan yang jam kerjanya di hari senin sampai jum’at dan berjam kerja pagi hingga sore hari, layaknya orang kantoran disekitaran Sudirman dan Thamrin, Jakarta sana???

Naomi Stephanny Manuhuwa. Dialah sahabat aku yang pertama kali aku tanyakan mengenai ekspektasi kerja itu. Sahabatku yang juga teman satu pengajar di Taman Ceria Negeriku itu memberikan rekomendasi kepadaku agar memilih pekerjaan yang hanya aku bisa lakukan saja. Apabila ‘skill’ mu dan pekerjaanmu sudah saling relevan, maka bukan tidak mungkin … kau akan aman di dalam ekspektasimu sendiri.

“Begini, In. Tak ada salahnya jika kamu mencari pekerjaan dengan hampir disegala bidang yang kamu bisa. Tetapi jika kamu bisa mencari pekerjaan yang SUDAH menyatu dengan skill kamu, tentu itu alangkah yang sangat sangat sangat baik. Misalkan kamu sudah merasa ahli di bidang komputer, maka pekerjaan yang cocok untuk kamu adalah bagian perkomputeran,” ujar wanita yang akrab disapa dengan sebutan Efflin tersebut, saat berjalan bersamaku di International Trade Centre Roxy Mas, Grogol, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu. Meski begitu, Efflin merekomendasikanku untuk tidak ragu dalam memilih pekerjaan apapun selagi itu bisa aku rasa untuk dikerjakan secara maksimal.

Karena ‘ekspektasi’ aku pribadi hanya menginginkan pekerjaan yang bernaung di kegiatan media jurnalisme, maka aku fokuskan saat ini untuk menambah referensi kewartawananku dan abilitas penulisan beritaku untuk kemudian dikemas dan dijadikan portofolio pribadi. Yap, sekali lagi. Ekspektasi utamaku dalam bidang pekerjaan, adalah agar aku bisa kerja di media. Titik dan Ammiinnn.

Hal senada juga diungkapkan dua sahabat FAFAY ku yang lain dalam relevansinya menyangkut komentar Efflin tadi. Yakub dan Febriansyah Rahmat, demikianlah dua dari yang aku sebut sebagai kata sapaan ‘dua sahabat’ FAFAY ku tadi. “Gak apa-apa Den. Selama lu masih bisa melakukannya coba lu jalani aja. Contohnya gue. Kuliah di jurusan Brodcasting, kerjanya di perbankan. Semua itu tergantung dari apa yang kita fokuskan…,” ujar pria yang akrab disapa Febri tersebut. Namun tampaknya ada ketidaksetujuan pendapat oleh sahabatku yang satu ini dalam relevansinya mengenai komentar Efflin tadi.

“Tergantung, Den. Karena sekarang ini susah mencari pekerjaan. Dan jika elu udah nge-klop di satu perusahaan, ya elu udah … begitulah. Tapi kalau elu (aku) yang akan menyelesaikan studi untuk Sarjana Strata 1, gue berharap banget buat elu bisa masuk media yang besaarrr… Wuedeeehhhh…. Abraham Yusuf Indrayana, Sarjana Komunikasi. Hehehe,” tambah sambil canda Yakub saat diskusi santai bersama bertiga, beberapa waktu lalu.

Dulunya memang iya, aku punya ekspektasi bisa bekerja di bidang teknik komputer. Tapi seiring waktu berjalan, ekspektasiku kini berubah. Hanya kerja di media dan usai sudah ekspektasiku dalam bidang pekerjaan. Mengenai gaji, ekspektasi orang-orangpun bisa berbeda-beda. Ada temanku yang memiliki ekspektasi untuk keluarga terlebih dahulu, ekspektasi untuk tabungan masa depan, bahkan ada pula temanku yang memiliki ekspektasi memiliki motor gede (moge) dan mobil!!! Wow … kita do’akan saja yaa sobat blogger agar teman-temanku bisa meraih ekspektasinya itu. Hehehe … Ammiinnn.


Ekspektasi sebuah Keinginan …

Untuk aku pribadi, aku punya ekspektasi bisa memiliki alat-alat yang canggih. Aku ingin punya komputer berpentium Quad, berwindows delapan, dan ingin punya gadget Android. Hehehe… Ammiinnn. Yaa meskipun bisa berubah suatu hari nanti kalau kata ayahku setidaknya kamu sudah memiliki keinginan mau meraih apa di masa nanti. Hehehe …

Ada Apple, yang (kini) terus menggodaku untuk membelinya, namun itu dia sobat blogger masalahnya. MAHAL. Oleh karena itu aku coba untuk mengharap sesuatu yang semi-mewah terlebih dahulu, biar aku ada semangat untuk meraihnya. Nah siapa tahu Tuhan kasih rejeki yang lebih … Yah apa yang akan kau beli lagi nanti??? Hahaha …

Bicara mengenai ekspektasi keinginan, kedua teman Fafay ku tadi juga memiliki ekspektasi yang berbeda pula. Yang pertama, fokus pada kemaslahatan keluarga. Kedua, menata ulang tempat tinggal. Nah yang ketiga … untuk dihambur-hamburkan deh. Hahaha :D . Lalu untuk aku apa? Tentunya sih, bisa membahagiakan kedua orangtuaku dengan gaji-gaji yang akan aku dapat kelak aku sudah bekerja nanti (kebahagiaan, bukan kebaha-GIA-an yaa … Haha).

Persempit lagi yuk ruang judul yang ada disini. Semisal mengenai ‘gadget’. Ada beberapa penilaian mengenai ketiga gadget yang diakui di dunia sangat menjadi rival satu sama lainnya. Yap. Apple, Android, dan Blackberry. Temanku yang ini, Febri, sepertinya akan memilih salah satu dari ketiga jenis gadget ini dikarenakan kebanyakan teman-teman kantornya memiliki tipe yang sama. Begitupun dengan Yakub, yang hanya saja berbeda pilihan dengan yang (mungkin) akan dipilih Febri nanti. Aku??? Heemmm ……. Pengen dua dari salah ketiga gadget yang ditawarkan diatas. Soalnya aku pun belum tega untuk meninggalkan gadget kesayanganku yang satu ini. Teman-teman di kontak masih banyak, dan satu-satunya fungsional yang tidak ada di tipe gadget yang lain membuatku semakin tidak tega untuk melepas handphoneku yang satu ini. Dan kalian tahu itu apa?? Yap. Blackberry. Hehehehe …. :D


Demikianlah diskusi santai dari A. Y. Indrayana mengenai sebuah Ekspektasi.

Tadi aku sudah menceritakannya. Kamu semua sudah tahu akan ekspektasiku. Ini ekspektasiku, mana ekspektasimu????